Bagaimana Saya Bisa Menjadi Penulis Buku dan Menjualnya di Gramedia

101 Young CEO di rak Best Seller di Gramedia
101 Young CEO di rak Best Seller di Gramedia (credit @mahadaya)

Tahun lalu, tepatnya Agustus 2013, saya resmi menjadi penulis buku. Buku saya yang pertama, judulnya 101 Young CEO, berisi profil 101 orang pengusaha muda Indonesia sukses di bawah 30 tahun, kini dijual di toko buku seluruh Indonesia, seperti Gramedia atau Gunung Agung. Di postingan ini, saya mau cerita perjalanan bagaimana saya bisa menjadi penulis buku.

Seperti kata Steve Jobs, “we can’t connect the dot looking forward“, ternyata saat melihat ke belakang, ke masa lalu saya, banyak sekali titik-titik yang saya lewati dan ternyata saling terhubung. Kesempatan menjadi penulis buku ternyata terbuka dari banyak sekali hal yang dulu saya pikir tidak berhubungan, ternyata kini nyambung.

Begini ceritanya.. Baca lebih lanjut

Enam Manfaat Menulis yang Telah Mengubah Diri Saya

Writing
Photo Credit: Rubin 110 via Compfight cc

Saya tidak ingat kapan PERTAMA KALI saya menulis sesuatu yang benar-benar dari buah pikiran saya. Jejak paling tua yang saya ingat mengenai menulis adalah saat SMP, di masa-masa pergantian milenium, saya menyalin dongeng dan cerpen dari majalah Bobo ke komputer pertama keluarga saat saya belajar mengetik 10 jari.

Saya tidak pernah punya diary berkunci gembok, saya juga tidak mengisi kertas file/binder saya dengan tulisan saya (isinya foto musisi Jepang dan testimoni teman sekelas, haha). Yang saya ingat, saya pernah menulis sebuah surat cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ternyata si dia sudah punya pacar, lalu saya bakar di atas rumah.

Ingatan terbaik saya tentang tulis-menulis adalah saat SMA akhir tahun 2005, saya membeli dan membaca satu buku praktis untuk belajar menulis berjudul “Daripada Bete, Nulis Aja!” karangan Caryn Mirriam-Goldberg. Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca, ngomong-ngomong.

Kemudian ingatan saya melompat langsung ke tahun 2006, semester dua di universitas, di mana di situlah saya pertama kali berkenalan dengan blog dan mulai menuliskan curhatan pertama saya, yang terus lanjut hingga di tulisan yang sedang kamu baca ini, 8 tahun kemudian.

Sepertinya saya tidak perlu mengingat sejak kapan saya pertama kali menulis, karena yang pasti menulis telah mengubah diri saya hingga seperti sekarang ini. Alhamdulillah..

Di tulisan ini, saya mau berbagi lima hal yang saya pribadi dapatkan dan rasakan manfaatnya dari menulis. Di buku “Daripada Bete, Nulis Aja!”, ada 12 alasan mengapa kita harus menulis, namun di sini, saya mau berbagai enam hal saja versi saya sendiri, yang dirasakan secara konkret oleh saya atau orang-orang terdekat saya, dari aktivitas menulis/ngeblog yang dilakukan secara rutin.

Apa saja manfaat dari menulis?

Membangun Komunitas Pembaca dari Blog Saya

David Rabbit Wallace via Compfight

Sudah satu bulan ke belakang, saya kembali aktif menulis di blog (ini tulisan come back saya). Dan terus terang saja, sekarang saya merasakan perasaan yang sama dengan yang saya rasakan 7 tahun lalu, saat saya pertama kali ngeblog tahun 2006.

Perasaan itu adalah semangat dan excited banget, pengennya berbagi apa yang didapatkan. Saya merasakan kalau lewat menulis, semakin banyak yang saya dapatkan lagi. Dan semakin banyak yang didapatkan, semakin banyak yang ingin dibagi. Begitu saja seterusnya.

Kalau 3 tahun ke belakang saya nggak terlalu aktif ngeblog, ternyata sebenarnya saya bukan sibuk. Memang benar saya sibuk mengurus anak dan keluarga, serta bekerja fulltime dengan orang lain. Tapi ternyata sibuk itu cuma alasan aja. Masih ada waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menulis. Waktu bisa dibuat, dengan cara tidak melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat dan mengurangi waktu tidur.

Bener lho, kalau kita tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat, kita akan melakukan hal-hal yang justru merugikan diri kita.

Tapi ada yang beda dengan aktivitas menulis saya sekarang dengan 7 tahun lalu. Kalau dulu saya menulis itu asal menulis saja, dibaca oleh teman-teman di kampus saja sudah senang. Sekarang saya mau membangun komunitas pembaca saya.

Wah, komunitas pembaca seperti apa?

dari Macet jadi Novel, Gimana Caranya?

Apa yang biasa kamu lakukan saat macet di jalan dan kamu sedang di mobil atau kendaraan umum roda empat? Tidur, ngedumel, baca, SMSan, ngetwit/FB? Itu udah biasa..

Gimana kalo gara-gara macet, jadi tulisan? Bahkan bisa jadi novel? Walah, gimana caranya?

Temen gw, cewek, @navikaanggun, rumahnya di Bekasi, kantornya di Pasar Minggu. Tiap hari dia naik kendaraan umum, berangkat abis Subuh, pulang dari kantor nyampe rumah jam 21.

Tapi dia baru aja ngeluncurin novel keduanya, yang diterbitin di situs print-on-demand nulisbuku.com!

Walah, kok bisa, bukannya dia sibuk bener?

Baca lebih lanjut

7 Tips Biar Bisa Menulis Cepat & Produktif

Seven Easy Steps to Much Faster Writing

  1. Cari waktu terbaik untuk nulis
  2. Kurangi resiko diganggu orang lain
  3. Hilangkan ‘pengalihan’
  4. Tulis outline terlebih dahulu
  5. Pakai timer
  6. Mulai darimanapun, ga mesti dari awal
  7. Jangan mengedit saat nulis

Saya sudah tahu semua dan mempraktekkan hal2  di atas, kecuali yang nomer 5:

  1. Waktu terbaik saya nulis itu di pagi hari, setelah mandi sampe jam10an. Ini pekerjaan pertama saya di pagi hari (untuk nulis-nulis yang kerjaan ya, bukan nulis santai seperti blog ini)
  2. Karena ini pekerjaan pertama di hari itu, saya ga buka YM, ga login Twitter, ga buka Facebook, dan sejenisnya.
  3. Ini nyambung dengan nomer 2 sih. Saya (terutama) ga buka browser, jadi risiko teralihkan dengan hal-hal lain lebih sedikit. Saya juga seringkali sebelum nulis udah mandi, udah sarapan, udah pipis, udah pup *ups*, udah menyiapkan air minum dan cemilan di samping laptop. Semua yang membuat saya bakal pindah tempat duduk udah saya hindari pokoknya.
  4. Yap. Tapi kadang-kadang saya menulis outline cuma dalam pikiran, khususnya untuk tulisan yang pendek (kurang lebih 1 halaman A4 aja)
  5. Belum pernah mencoba ini. Bagus juga sepertinya.
  6. Betul. Paragraf pertama itu paragraf paling sulit, karena harus mengarang kata-kata indah. Jadi tulislah yang udah tersedia, misalnya suatu data atau perkataan orang lain yang kita kutip.
  7. Setuju. Ide tulisan yang udah ada di kepala harus dituangkan semua. Kalo kita berenti nulis untuk ngedit (seperti mencari sinonim kata yang lebih pas, menghilangkan typo, atau mengubah frase biar lebih indah), ide yang ada di kepala itu bakal menghilang entah kemana dulu.

Meski saya sudah membiasakan 6 dari 7 hal di atas, tetap saja kadang-kadang gagal dan membuat postingnya lama. Khususnya di nomer 2 dan 3. Godaan browser lebih berat, hehe..

Kalo kamu, ada tips lain biar nulisnya lebih cepet & produktif?

thanks mbak ollie for sharing this.