3 Pelajaran dari Menjadi Pembicara di Acara Growth Hacking Asia – Indonesia

Saat tampil jadi pembicara

Dulu, saat masih remaja, saya punya masalah komunikasi, tepatnya komunikasi oral/lisan. Saya amat gagap saat SMA, tepatnya tersendat dan mengatakan “ngg, apa, apa, apa” di tengah-tengah kalimat. Sampai saya punya julukan “Ilman Apa-apa” saat SMA, sampai teman dekat saya saat itu ikut ketularan gagap juga karena terlalu sering ngobrol sama saya hahaha.

Saat masuk dunia kuliah, saya menyadari penyebab saya gagap: karena saya berbicara terlalu cepat, terlalu banyak yang ingin dikeluarkan dari pikiran saya, sementara mulut tidak bisa mengimbanginya. Akhirnya gagap deh. Gagap saya memang sembuh saat kuliah, tapi kecepatan saya bicara tidak berkurang. Saya ngomong terlalu cepat dan datar tanpa intonasi, sehingga apa yang saya bicarakan tidak mudah dimengerti orang lain.

Saya memutuskan untuk menaklukkan kelemahan diri sendiri itu, dengan memaksa diri berbicara lebih banyak, di depan lebih banyak orang. Biarlah awalnya apa yang saya sampaikan agak sulit dimengerti yang mendengar, tapi saya yakin lama kelamaan akan membaik.

Sejak bertekad untuk menaklukkan gagap dan bicara cepat saya itu, sudah tak terhitung jumlah sesi saya belajar sambil praktek. Tepatnya, praktek tampil di depan umum baik sebagai pembicara, moderator, maupun MC di berbagai event, sejak kuliah 10 tahun lalu hingga saat ini.

Ya, semua kesempatan public speaking saya jadikan kesempatan untuk belajar dan melatih diri saya sendiri berbicara, agar apa yang ingin saya sampaikan bisa diterima dengan baik oleh para pendengar.

Alhamdulillah, betapa senangnya saya mendapat kesempatan belajar public speaking lagi karena diundang menjadi pembicara di event Growth Hacking Asia Indonesia, di Jakarta, 3 September 2015 minggu lalu. Tidak tanggung-tanggung, saya sekaligus belajar untuk mempraktekkan 3 hal! Buat saya, ini semacam achievement unlocked!

Apa saja ketiga hal yang saya pelajari itu?