Yang Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik Bagi Kita

Dispenser

Dispenser di kantor saya keren sekali. Ada indikator digital untuk memantau suhu air panas yang dihasilkan. Dari situ saya baru tahu, ternyata suhu rata-rata air panas di dispenser adalah sekitar 80-85 derajat Celsius.

Dispenser ini juga punya fitur extra hot, memungkinkan suhu airnya lebih panas lagi, hingga 99 derajat Celsius. Fitur ini biasa dipakai oleh teman-teman penggila kopi, katanya supaya aroma kopinya lebih keluar.

Nah, suatu pagi, saya mau makan mie kemasan dalam gelas. Isenglah saya untuk memanfaatkan fitur extra hot tadi. Saya berpikir, kalau suhunya lebih tinggi pasti mienya akan cepat matang dan jadi lebih enak, seperti kopi tadi.

Pemikiran saya ternyata salah besar. 

Iya mienya memang jadi lebih cepat lembek. Tapi saya tidak bisa makan mienya karena suhunya terlalu panas! Sampai lebih dari 5 menit, mie saya tidak bisa saya makan karena suhunya sedemikian panasnya.

Akhirnya saat saya bisa makan mienya, tekstur mienya sudah tidak enak lagi, terlalu lembek karena terlalu lama direbus.

Pop Mie

Ternyata, lebih tinggi suhunya tidak selalu lebih baik. Untuk kopi memang bagus, namun bukan ide yang bagus untuk mie. Ternyata, sesuatu yang kita anggap kalau lebih banyak akan lebih baik bagi kita, ternyata tidak selalu benar.

Demikian pula dalam hidup. Sesuatu yang kita dapatkan lebih banyak, tidak selalu lebih baik bagi kita.

Kita berharap punya uang lebih banyak supaya lebih bahagia, tapi ternyata lebih kaya belum tentu membuat lebih bahagia.

Kita sekolah setinggi-tingginya berharap akan mudah dapat kerja, tapi ternyata masih banyak saja sarjana yang menganggur.

Kita berharap punya jabatan lebih tinggi, tapi ternyata jabatan lebih tinggi malah bisa membuat kita terjerat masalah (korupsi, difitnah, dsb).

Kita berharap punya punya gadget lebih baru, tapi ternyata malah membuat kita terjebak hutang kartu kredit.

Bukankah alangkah indahnya hidup ini kalau kita tidak ngoyo, tidak berpikir bahwa semua yang lebih banyak itu pasti lebih baik bagi kita.

Alangkah indahnya jika kita bisa menikmati apa yang ada di hadapan kita. Bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, yang diberikan Tuhan ke kita. Bukan berharap apa yang tidak kita miliki.

Just enough. Yang cukup-cukup saja untuk diri kita saat ini dan di masa depan.

Karena hal terbaik dalam hidup adalah hal yang bisa kita nikmati, buat apa menggunakan air yang lebih panas kalau mie-nya malah tidak bisa kita makan? 🙂

 

gambar diambil dari glodokelektronik.net

Iklan

2 pemikiran pada “Yang Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik Bagi Kita

  1. manusia pada dasarnya memang tidak pernah puas, ada bagusnya juga jadi terus punya motivasi agar jadi lebih baik. Tapi, jangan lupa bersyukur dan gak ngoyo, let’s do our best, pray and Allah do the rest 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s