Bagaimana Saya Bisa Menjadi Penulis Buku dan Menjualnya di Gramedia

101 Young CEO di rak Best Seller di Gramedia
101 Young CEO di rak Best Seller di Gramedia (credit @mahadaya)

Tahun lalu, tepatnya Agustus 2013, saya resmi menjadi penulis buku. Buku saya yang pertama, judulnya 101 Young CEO, berisi profil 101 orang pengusaha muda Indonesia sukses di bawah 30 tahun, kini dijual di toko buku seluruh Indonesia, seperti Gramedia atau Gunung Agung. Di postingan ini, saya mau cerita perjalanan bagaimana saya bisa menjadi penulis buku.

Seperti kata Steve Jobs, “we can’t connect the dot looking forward“, ternyata saat melihat ke belakang, ke masa lalu saya, banyak sekali titik-titik yang saya lewati dan ternyata saling terhubung. Kesempatan menjadi penulis buku ternyata terbuka dari banyak sekali hal yang dulu saya pikir tidak berhubungan, ternyata kini nyambung.

Begini ceritanya..

I’m A Passionate Blogger

Ilman Menulis Blog

Saat itu tahun 2006. Belum ada Facebook, Twitter, dan Instagram. Orang-orang masih suka menulis tulisan yang panjang, di media yang saat itu sedang tren, yaitu blog.

Terinspirasi dari dua orang penulis buku ternama, plus beberapa teman terdekat saya juga ngeblog, saya menulis tulisan pertama saya di blog. Lalu tulisan kedua. Berikutnya tulisan ketiga. Hingga akhirnya saya ketagihan menulis. Saat itu kebanyakan memang cuma curhat dan pengalaman sehari-hari.

Setahun kemudian, blog mulai mainstream di Indonesia, lahirlah Pesta Blogger pertama yang menandakan adanya Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2007. Semangat ngeblog saya saat itu meluap-luap, sehingga selain ngeblog di blog pribadi saya, saya ‘melahirkan’ blog yang isinya memang tentang ajakan & inspirasi ngeblog, AyoNgeBlog.com (sayangnya sekarang sudah wafat).

Sepanjang pengalaman menulis blog, saya menyadari bahwa saya gampang sekali terinspirasi oleh orang lain. Saya sangat suka belajar dari banyak orang. Sehingga pelan-pelan tulisan saya berubah dari curhatan pribadi & pengalaman sehari-hari (yang hanya dibaca sama teman-teman kampus saja) jadi tulisan bertema ‘sesuatu’ yang lebih bisa dibaca audiens umum. Dari sini, saya pun mulai mengenal banyak blogger lain, lewat aktivitas blogwalking (saling mengunjungi blog dan meninggalkan komentar).

Salah satu tema yang paling sering saya tulis adalah tentang entrepreneurship, berdasarkan pengalaman menjalankan bisnis web consultant bersama teman-teman di kampus. Saat itu saya memang sangat semangat mengajak teman-teman untuk ikut menjadi entrepreneur. Perjalanan saya menjadi entrepreneur saya tuliskan lengkap di blog, dari sejak didirikan, kami jalankan full-time, hingga saat usaha itu kami jual dan bubarkan.

Kelak, dari hanya menulis di kedua blog saya itu, tahun 2010 saya melamar sebagai freelancer di Detik.com. Selama total satu tahun, saya melakukan liputan, wawancara, dan menulis advertorial bagi klien-klien korporasi mereka (seperti Garuda Indonesia, Kopi Kapal Api, dsb). Ini salah satu tulisan saya di sana dengan nama saya sebagai penulisnya.

Tahun berikutnya, saya direkomendasikan dan diajak teman saya Julian Sukmana Putra menjadi kontributor Indonesia untuk TechInAsia.com, sebuah blog berbahasa Inggris yang membahas teknologi dan bisnis di kawasan Asia.

Jangan kira saya aktif terus dan lancar-lancar saja menulis. Saya sempat hibernasi alias berhenti menulis blog, sekitar dua-tiga kali. Durasi hibernasinya pun bukan cuma hitungan minggu, bahkan hingga bulan! Saya bahkan sempat merasa malas sekali untuk menulis.

Teko kalau tidak diisi, tidak akan bisa mengeluarkan air. Ternyata kualitas kehidupan saya berpengaruh ke kualitas & kuantitas tulisan di blog. Pada masa-masa down alias galau, saya merasa hidup saya stuck dan gitu-gitu aja. Pada masa itu, saya memang tidak berkembang, tidak belajar hal-hal baru. Efeknya, saya tidak punya ide untuk dituliskan.

Dari Interaksi Online ke Kopdar Offline

Ada sebuah kebiasaan positif di antara blogger. Biasanya kita berinteraksi online lewat postingan dan komentar blog, kini bertemu dan bertatap muka langsung secara offline. Istilahnya kopi darat alias kopdar.

Saya termasuk orang yang ikut-ikutan tren kopdaran itu. Setelah kopdar raksasa di Pesta Blogger 2007 (pertama kalinya ada 500 orang blogger se-Indonesia berkumpul!), saya jadi rajin ikut berbagai komunitas.

Tahun segitu, belum banyak acara komunitas yang ada di Jakarta. Salah satu yang rutin saya ikuti saat itu adalah FreSh! (Freedom of Sharing), yang berbagi mengenai berbagai hal, mulai dari kreativitas, entrepreneurship, serta teknologi (saya juga pernah diminta untuk sharing).

Mengapa saya senang ikut event komunitas seperti itu? Karena banyak sekali ilmu baru yang didapatkan dari para pembicara. Tidak kalah penting adalah mengembangkan pergaulan alias networking dengan sesama peserta lain. Banyak sekali inspirasi yang didapatkan di sana.

Di salah satu event FreSh, saya berkenalan dengan mas Adez Aulia, yang kantornya menjadi tuan rumah event FreSh saat itu. Nama ini akan menjadi penting dalam cerita saya kelak.

Acara lain yang saya hadiri, beberapa tahun kemudian adalah Speed Networking, yang diadakan oleh IDS | International Design School. Bertemulah saya kembali dengan mas Adez yang bekerja di sana. Saya juga mengetahui bahwa ternyata IDS sedang bekerja sama dengan IKJ menyelenggarakan program S2 bidang wirausaha kreatif.

Saya berkenalan dengan beberapa mahasiswa angkatan pertamanya, salah satunya bernama Lahandi Baskoro. Mereka mempromosikan program S2 itu dengan sangat semangatnya. Dari cerita mereka sih memang menarik, namun saat itu saya belum tertarik untuk melanjutkan kuliah.

Tahun 2009 industri bisnis digital/internet mulai menggeliat. Komunitas #StartupLokal yang khusus berbagi mengenai mengenai startup di Indonesia terbentuk. Saya aktif sering ikut hadir di acara komunitas tersebut, hingga akhirnya diminta oleh para initiator/pendiri komunitas itu untuk membantu mereka mengurus acara itu, mempersiapkan event dan sebagainya.

Singkat cerita, untuk kesekian kalinya saya bertemu mas Adez. Kesempatan kali ini adalah di acara #StartupLokal yang diadakan (lagi-lagi) di IDS. Setelah pertemuan itu, beliau malah mengajak saya bekerja di IDS bersamanya dan ikut kuliah di program S2 wirausaha kreatif dari IKJ dan IDS. Saya pun menjadi adik kelas Lahandi dan semakin sering berinteraksi dengannya.

Akhirnya Semua Saling Terhubung..

Pada suatu siang yang cerah tanggal 2 bulan Juli tahun 2012, datang email dari seseorang bernama Fachmy Casofa. Ia memperkenalkan diri sebagai editor dari Penerbit Tiga Serangkai, salah satu penerbit terbesar dan tertua di Indonesia (kita mengenalnya dulu sebagai penerbit buku pelajaran sekolah).

Email penawaran menulis buku dari penerbit Tiga Serangkai
Email yang mengubah hidup saya, selamanya

Ia mengatakan bahwa ia memiliki konsep buku mengenai entrepreneurship, dan meminta saya menjadi penulisnya. Ia sudah membaca tulisan-tulisan dan gaya tulisan di blog saya, yang dinilainya cocok untuk mengeksekusi alias menuliskan konsepnya menjadi bentuk buku.

Ternyata mas Fachmy mengenal Lahandi dan meminta rekomendasi siapa saja orang yang dirasa cocok menuliskan konsep itu. Saya yang memang sudah dekat dengan Lahandi, termasuk salah satu yang direkomendasikan.

Setelah membaca konsep yang dia buat itu, saya merasa bahwa buku ini memang ‘saya banget’. Terus terang, saya memang pernah punya bayangan ingin jadi penulis, tapi cuma bayangan, bukan impian. Bukan pula dalam waktu secepat ini. Sempat ragu-ragu juga, masa saya pantas?

Tapi sekarang ada kesempatannya di depan mata. Lagi pula saya tahu bahwa ribuan naskah buku ditolak oleh penerbit setiap bulannya. Ini saya yang didekati oleh penerbit. Masa disia-siakan?

Beberapa kali saya dan mas Fachmy saling berbalas email. Saya bertanya beberapa hal seperti “apakah ini pasti diterbitkan (jawabannya insya Allah, pasti)”, “apakah nama penulisnya berdua mas Fachmy (jawabannya penulisnya Ilman Akbar secara pribadi)”, dan “apakah saya sudah pantas menulis buku (dia bilang pantas banget).”

Akhirnya bismillah, saya pun menerima tantangan menulis buku pertama dalam hidup. Surat resmi perjanjian menulis naskah antara saya dengan Penerbit Tiga Serangkai, saya tandatangani sebulan kemudian.

Sepuluh bulan kemudian, pada deadline akhir yang tidak bisa dilanggar lagi, yaitu akhir April 2013, naskah selesai ditulis.

“101 Young CEO” Beredar di Pasaran, Saya Resmi Jadi Penulis Buku!

Setelah naskah selesai saya tulis, penerbit memerlukan waktu sekitar 1,5 bulan untuk proses editing dan layouting. Kemudian 1,5 bulan berikutnya untuk proses cetak dan distribusi ke seluruh Indonesia.

Pada bulan Agustus 2013, “101 Young CEO” pun beredar di Gramedia di (hampir) seluruh Indonesia. Toko buku Gunung Agung bahkan tidak kebagian buku saya karena habis diborong oleh Gramedia, utamanya di Jabodetabek.

Setelah buku ini beredar di pasaran, alhamdulillah buku “101 Young CEO” bisa diterima pasar dengan cukup baik. Strategi direct selling yang dipilih penerbit dan toko buku membuat buku ini masuk di rak Buku Pilihan/Best Seller di beberapa bulan awal. Direct Selling ini artinya buku ini ditawarkan secara aktif oleh pramuniaga Gramedia, mungkin kaya, “boleh buku 101 Young CEO-nya kakaak”😀

Tiga bulan kemudian, sekitar akhir 2013, saya dapat kabar bahwa alhamdulillah buku ini dicetak ulang untuk kedua kalinya. Artinya 3.000 eksemplar 101 Young CEO cetakan pertama ini sudah habis terjual, dan toko-toko buku meminta restock! Cetakan kali ini, buku saya akhirnya masuk di Gunung Agung dan di lebih banyak toko buku lain se-Indonesia.

Sekitar enam bulan kemudian, di akhir September 2014, saya dapat kabar lagi bahwa buku saya dicetak ulang untuk yang ketiga kalinya.

Alhamdulillah, sungguh sebuah karunia yang luar biasa, tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dari keinginan untuk terus berbagi lewat blog yang pembacanya sedikit, saya mendapat kesempatan untuk berbagi ke lebih banyak orang lagi lewat buku. Dan kesempatan untuk berbagi datang lebih banyak lagi lewat acara-acara yang saya diundang untuk jadi pembicaranya. Alhamdulillah🙂

My Lesson Learned

Saya mau berbagi beberapa prinsip atau nilai-nilai hidup yang saya pegang erat selama perjalanan ini, yang mungkin bisa teman-teman bisa ambil hikmahnya.

1. Miliki growth mindset, selalu ingin belajar dan menjadi orang yang lebih baik

Kata orang bijak, “hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Artinya setiap hari kita harus menjadi orang yang lebih baik lagi. Minimal, ada hal baru yang kita pelajari setiap hari sehingga ilmu kita bertambah. Syukur-syukur lebih banyak amal perbuatan baik yang kita lakukan. Ini adalah prinsip utama dalam hidup saya.

Dengan prinsip yang saya pegang ini, saya..

2. Terus mau mencoba dan belajar hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya

Saya menulis blog padahal sebelumnya belum pernah sama sekali. Saya hadir di event komunitas yang isinya penuh orang yang belum saya kenal. Yang lain tidak saya ceritakan di sini, tapi saya pernah mencoba main band, desain grafis, ikut kompetisi di kampus, dan masih baaanyak lagi hal baru yang saya coba (hingga detik ini).

Banyak hal pasti akan berhenti kita lakukan karena bosan atau alasan lain. Tapi akan ada sedikit hal yang kita temukan “ini gw banget!”, kita lakukan terus-menerus karena kita suka melakukannya, dan mengubah diri kita selamanya.

3. Kembangkan pergaulan kita seluas-luasnya agar kita bisa membantu sebanyak-banyaknya orang.

Ternyata ada alasannya kita diperintahkan kitab suci untuk networking alias menyambung tali silaturahmi. Semakin banyak kita mengenal orang, semakin banyak orang yang bisa kita bantu.

Efeknya, banyak orang akan membantu kita, membukakan pintu rezeki untuk kita. Padahal kita tidak menyangka sama sekali sebelumnya.

4. Miliki keinginan untuk menjadi orang yang bermakna & bermanfaat

Kita pinter, kita kaya, pergaulan kita luas, kita bisa ini-itu. So what? Apa gunanya? Kaya bukan jaminan bahagia, pinter bukan jaminan sukses kok.

Uang bisa membeli kebahagiaan hanya saat uang itu dinikmati oleh orang lain, bukan oleh diri kita sendiri.. Sama dengan kelebihan lain yang kita miliki, hanya akan ada nilainya saat bermanfaat untuk orang lain.

Mengapa saya amat senang menulis? Awalnya saya cuma senang dan puas karena berhasil “menciptakan sesuatu” hasil menuangkan pikiran dalam tulisan. Tapi dari komentar-komentar yang masuk, tidak pernah saya sangka, ternyata ada orang-orang yang merasa terbantu.

Tulisan-tulisan saya ternyata bermanfaat bagi mereka. Hal ini menciptakan makna yang dalam bagi saya. Saya menulis = bermanfaat.

5. Lakukan hal-hal baik, percaya saja kebaikan itu akan kembali ke diri kita sendiri

Terakhir, menyimpulkan seluruh value yang saya pegang ini, lakukanlah hal-hal baik sepanjang hidup kita. Percaya saja bahwa kebaikan yang kita lakukan itu sebenarnya bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri kita sendiri. Kalau tidak dibalas di dunia, akan dibalas di akhirat kelak.

Akhir kehidupan kita merupakan refleksi apa yang paling kita kejar dan paling sering kita lakukan sepanjang hidup. Satu hal yang saya inginkan adalah bahwa di akhir hidup saya kelak, saya tidak menyesal sama sekali dengan hidup saya. Saya ingin tersenyum, mengetahui bahwa saya sudah menemukan makna mengapa saya dilahirkan dan menyelesaikan hidup saya dengan penuh makna.

Buat teman-teman yang membaca segini panjangnya sampai sini, terimakasih banyak ya🙂

Mohon maaf jika kecewa karena berharap menemukan tips menulis dan menerbitkan buku, malah membaca curhat saya gini.

Mudah-mudahan ada pelajaran dan inspirasi yang bisa diambil dan diterapkan bagi hidup teman-teman, tidak hanya untuk menjadi penulis, tapi untuk menjalani hidup sepenuhnya (living life to the fullest). Semangat terus jadi orang yang lebih baik!

15 pemikiran pada “Bagaimana Saya Bisa Menjadi Penulis Buku dan Menjualnya di Gramedia

  1. Paling senang baca tentang tulisan tipe “perjalanan” begini karena insightnya lebih banyak dibanding tipe “tips”. Terima kasih Man! :3

    btw itu kopdar anakUI.com taun berapa yak? kurus amat gue :3

    Suka

  2. Terima kasih atas tulisannya, bang Ilman. Benar-benar memberikan insight dan inspirasi bagi saya untuk terus menulis. Target saya tahun depan (2015) sudah menerbitkan buku pertama saya. Terima kasih bang🙂

    Suka

  3. Kak Ilmann, masing ingatkah sama Ai? wah ragu nih kalau masih diingat penulis keren ini.

    Keren kak, insyaAllah abis baca tulisan ini Ai langsung beli bukunya😀
    Kapanlah kak kita ketemu dan sharing pengalaman? kayanya bakal lebih gede “api semangat”-nya kalau ketemu kak Ilman langsung, tentunya kalau kak ilman ada waktu :p

    Salam buat Kak Isti dan ade Naia🙂

    Suka

    1. ya ampun aiii.. ya masih inget laah..
      aku tuh udah pernah nyoba mengontak Ai, tapi nomernya entah kenapa nggak terkirim atau gimanaa gitu..

      terus ujug2 dua minggu lalu aku ketemu sama Puti di Fasilkom, jadilah aku minta nomer Ai yg baru. belum sempet ngontak2, eh Ai udah komen di sini. Law of attraction hihihi..

      Ayuk2, silaturahim yuuk! Belum pernah ketemu Naia kan hehehe..

      Insya Allah disampaikan salamnya🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s