Kolaborasi vs Kompetisi, Mana yang Kamu Pilih?


Pedagang Pakaian

Dari dulu saya heran melihat suatu daerah/jalan yang isinya penjual-penjual dengan bidang usaha yang sama. Kok mau sih berbisnis di tempat yang banyak saingannya gitu?

Sebut saja, misalnya pedagang baju di Tanah Abang, pedagang parcel di Cikini, pedagang elektronik di Glodok, pedagang komputer di Mangga Dua, bengkel dan pedagang aksesoris motor, hingga jasa fotokopi dan print yang meluber di sekitar kampus.

Kalau sesama kompetitor jualan sebelahan, mau nggak mau akan terjadi perang harga bukan? Yang untung sih memang konsumen, tapi margin keuntungan si pengusaha makin tipis dong. Artinya seharusnya mereka berkembangnya pelan-pelan.

Tapi kalau dilihat-lihat, kenapa yang jualan di Tanah Abang makin banyak ya, sampai luber ke jalan segala? Di kampus, saya malah melihat makin banyak tempat fotokopi baru yang dibuka. Terus kok saya belum pernah dengar ada toko di Glodok bangkrut karena tidak ada pembeli ya?

Agak counter-intuitive nih. Banyak pengusaha di bidang yang sama di tempat yang sama, bukannya mereka bersaing hingga bunuh-bunuhan, tapi mereka malah besar sama-sama. Ternyata, ada sebuah konsep/teori dalam ilmu ekonomi perkotaan yang menjelaskan hal ini. Namanya teori aglomerasi.

Teori ini menjelaskan bahwa perusahaan akan mendapatkan keuntungan jika lokasinya saling berdekatan. Konsepnya adalah efek jaringan dan skala ekonomis (economies of scale).

Banyak usaha dalam bidang sama di satu tempat akan membuat pelanggan akan mengenal tempat itu sebagai “tempat untuk membeli X”. Pelanggan akan mempromosikan tempat itu dari mulut-ke-mulut, menciptakan efek jaringan.

Hasilnya, semakin banyak pelanggan akan datang ke tempat itu, meningkatkan volume/omset penjualan secara kolektif, membuat mereka semakin untung bersama-sama. Dari sinilah kita kenal Tanah Abang sebagai tempat murah buat beli baju untuk terus dijual lagi.

Hal kedua tentang manfaat aglomerasi, adalah biaya produksi mereka akan turun secara signifikan. Mengapa? Karena supplier mereka akan memberikan harga lebih murah akibat mereka mensuplai dalam jumlah besar ke berbagai usaha di tempat yang sama itu. Efeknya, dengan biaya produksi yang berkurang, margin keuntungan mereka juga akan meningkat.

Dengan berkumpul di tempat yang sama, berbagai usaha yang seharusnya saling bersaing dan menghantam keras justru mendapatkan keuntungan tumbuh bersama-sama.

Dua pelajaran dari teori ini: Pertama, kalau kita sedang belajar dan mengembangkan diri dalam satu skill atau passion tertentu, berkumpullah dengan orang-orang yang sudah punya skill itu. Ada misalnya #StartupLokal, Kreavi, Web Series Indonesia, dan sebagainya. Niscaya kecepatan belajar kita akan meningkat pesat.

Kedua, kalau kita sudah punya skill yang bisa dimanfaatkan, berkumpullah dengan sesama orang yang punya skill itu, khususnya yang punya tujuan sama. Carilah komunitas atau asosiasi bidang keahlianmu. Ada namanya Marketing Club, Social Media Strategist Club, Indonesia E-commerce Association, dan masih banyak lagi.

Niscaya akan ada kolaborasi seperti berbagi proyek komersial atau menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, seperti KawalPemilu.org itu yang terjadi saat 3 orang ahli IT berkumpul.

Nah, jadi jangan menganggap diri kita paling jago dalam satu hal. Kembangkan jaringanmu dan berkolaborasilah!

Photo Credit: alkadrii via Compfight cc

Iklan

3 pemikiran pada “Kolaborasi vs Kompetisi, Mana yang Kamu Pilih?

  1. wah, baru tau saya tentang konsep ini, dulunya juga sempat berpikir sama, “lah di sini sudah banyak kok masih aja mikir utk usaha yg sama”
    oh, ternyata itu toh jawabannya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s