Kolaborasi vs Kompetisi, Mana yang Kamu Pilih?


Pedagang Pakaian

Dari dulu saya heran melihat suatu daerah/jalan yang isinya penjual-penjual dengan bidang usaha yang sama. Kok mau sih berbisnis di tempat yang banyak saingannya gitu?

Sebut saja, misalnya pedagang baju di Tanah Abang, pedagang parcel di Cikini, pedagang elektronik di Glodok, pedagang komputer di Mangga Dua, bengkel dan pedagang aksesoris motor, hingga jasa fotokopi dan print yang meluber di sekitar kampus.

Kalau sesama kompetitor jualan sebelahan, mau nggak mau akan terjadi perang harga bukan? Yang untung sih memang konsumen, tapi margin keuntungan si pengusaha makin tipis dong. Artinya seharusnya mereka berkembangnya pelan-pelan.

Tapi kalau dilihat-lihat, kenapa yang jualan di Tanah Abang makin banyak ya, sampai luber ke jalan segala? Di kampus, saya malah melihat makin banyak tempat fotokopi baru yang dibuka. Terus kok saya belum pernah dengar ada toko di Glodok bangkrut karena tidak ada pembeli ya? Nah, tapi?

Iklan

Buang Sampah Sembarangan, Cerminan Mental Miskin

Ada sebuah kejadian di Piala Dunia Brazil 2014 lalu yang menyentak hati saya. Supporter Jepang membersihkan sampahnya sendiri di stadion seusai pertandingan!

Suporter Jepang Membuang Sampah Sembarangan

Ya, sampahnya dipungut dan dikumpulkan sendiri! Sebuah sikap yang jauuuuh banget berlawan dengan sebagian besar masyarakat Indonesia yang saya lihat.

Memang orang Indonesia seperti apa?