Enam Manfaat Menulis yang Telah Mengubah Diri Saya

Writing
Photo Credit: Rubin 110 via Compfight cc

Saya tidak ingat kapan PERTAMA KALI saya menulis sesuatu yang benar-benar dari buah pikiran saya. Jejak paling tua yang saya ingat mengenai menulis adalah saat SMP, di masa-masa pergantian milenium, saya menyalin dongeng dan cerpen dari majalah Bobo ke komputer pertama keluarga saat saya belajar mengetik 10 jari.

Saya tidak pernah punya diary berkunci gembok, saya juga tidak mengisi kertas file/binder saya dengan tulisan saya (isinya foto musisi Jepang dan testimoni teman sekelas, haha). Yang saya ingat, saya pernah menulis sebuah surat cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ternyata si dia sudah punya pacar, lalu saya bakar di atas rumah.

Ingatan terbaik saya tentang tulis-menulis adalah saat SMA akhir tahun 2005, saya membeli dan membaca satu buku praktis untuk belajar menulis berjudul “Daripada Bete, Nulis Aja!” karangan Caryn Mirriam-Goldberg. Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca, ngomong-ngomong.

Kemudian ingatan saya melompat langsung ke tahun 2006, semester dua di universitas, di mana di situlah saya pertama kali berkenalan dengan blog dan mulai menuliskan curhatan pertama saya, yang terus lanjut hingga di tulisan yang sedang kamu baca ini, 8 tahun kemudian.

Sepertinya saya tidak perlu mengingat sejak kapan saya pertama kali menulis, karena yang pasti menulis telah mengubah diri saya hingga seperti sekarang ini. Alhamdulillah..

Di tulisan ini, saya mau berbagi lima hal yang saya pribadi dapatkan dan rasakan manfaatnya dari menulis. Di buku “Daripada Bete, Nulis Aja!”, ada 12 alasan mengapa kita harus menulis, namun di sini, saya mau berbagai enam hal saja versi saya sendiri, yang dirasakan secara konkret oleh saya atau orang-orang terdekat saya, dari aktivitas menulis/ngeblog yang dilakukan secara rutin.

Pertama, menulis itu menyalurkan emosi dan menyembuhkan

Dari pelatihan yang saya ikuti beberapa minggu lalu, dikatakan oleh Bayu Ludvianto trainernya, bahwa emosi/emotion itu sebenernya adalah energy in motion, alias energi yang selalu begerak. Jadi sangat normal dan wajar kita punya perasaan bete, bahagia, kesal, marah, dan sebagainya, karena nanti juga akan bergerak dan perasaan kita berganti lagi. Yang tidak normal adalah saat satu perasaan menetap terus-menerus.

Saat sebuah emosi memenuhi diri kita, menulis bisa jadi salah satu penyalur emosinya. Kalau kita punya rasa bahagia meluap-luap di dada dan bikin kita meloncat-loncat saking senangnya, kita bisa menulis untuk membagikan kebahagiaan itu dan membuat kita kembali menapak tanah. Kalau kita sedang kesal atau marah, menulis bisa membuat perasaan itu hilang.  Menulis adalah saluran emosi istri saya. Kalau ia merasa bete, ia menulis. Bahkan tulisannya pun tidak tentang perasaannya, tapi begitu selesai menulis di blog, betenya berkurang bahkan hilang.

Menulis juga bisa menyembuhkan perasaan-perasaan negatif di dalam diri kita. Kalau saya, perasaan negatif yang sering muncul itu adalah perasaan tidak bermakna, tidak bermanfaat, dan tidak percaya diri. Kalau itu muncul, saya menulis, dan saat tulisan itu ada, saya kembali sehat.

Kedua, menulis itu mengabadikan diri kita

Kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kita bukan tokoh besar seperti Nabi Muhammad, Napoleon, George Washington, Soekarno, atau tokoh besar lainnya yang sejarah dirinya dituliskan dan diabadikan oleh orang lain. Kita harus membuat sejarah kita sendiri, membuat kita eksis di peradaban manusia modern. Jangan sampai kita ada atau tidak ada kita itu sama saja efeknya bagi orang lain.

Lewat tulisan kita, masa depan akan mengenang bahwa kita ada. Minimal, anak cucu kita akan mengetahui bagaimana pemikiran dan tindakan yang dilakukan kakeknya dulu.

Ketiga, menulis itu membuat kita bisa kembali ke masa lalu

Teman-teman harus merasakan rasanya membuka dan membaca tulisan kita bertahun-tahun lampau! Rasanya seperti naik mesin waktu, kita bisa membayangkan suasana hati saat tulisan itu ditulis, bisa melihat bagaimana rupa orang-orang sekitar kita dalam kejadian di masa itu.

Saya sendiri mengambil inspirasi dan semangat dari Ilman di masa lalu, yang polos, yang idealis, yang punya energi lebih, yang positif. Dan akhirnya itu semua menginspirasi saya untuk jadi lebih baik dibandingkan dengan Ilman di masa lalu.

Satu tips menulis paling penting untuk yang merasa malu atau tidak bisa menulis: menulislah untuk kita di masa depan, tidak untuk dibaca siapa-siapa lagi, tapi untuk dibaca kita kelak.

Keempat, menulis itu membuat kita punya lebih banyak wawasan 

Apa yang mau kita tulis kalau kita tidak punya bahan untuk menulis? Caryn Mirriam-Goldberg di buku “Daripada Bete, Nulis Aja!” mengatakan bahwa yang disebut menulis itu bukan hanya saat menulis di atas kertas atau mengetik tombol keyboard. Menulis itu sudah ada sejak ada di dalam kepala, saat pikiran kita menyusun apa yang mau ditulis.

Bahan-bahan tulisan itu berasal dari apa yang kita baca, kita dengar, dan kita amati sehari-hari, berkumpul di kepala menjadi satu tema besar yang siap “dikeluarkan dari kepala” dalam bentuk tulisan. Kalau kita menulis, pikiran dan wawasan kita akan terbuka karena kita membuka diri terhadap semua input ilmu & informasi.

Percaya deh, wawasan yang kita punya dari bahan yang kita baca akan jauh lebih banyak dari apa yang akhirnya kita tulis! Yang sudah pernah skripsi tahu repotnya membaca banyak buku hanya untuk dikutip satu-dua kalimatnya saja hahaha.

Kelima, menulis itu bisa menginspirasi orang lain

Ini sebetulnya bonus, karena untuk pertama, menulislah untuk kenyamanan diri kita sendiri dulu. Tapi kalau kita membuat tulisan kita bisa dibaca oleh orang lain (di blog misalnya), insya Allah, pasti ada deh orang yang membaca dan mengambil sesuatu manfaat dari tulisan kita.

Kita tidak tahu kan, mungkin saja tulisan kita bisa membuat orang lain tersenyum, mungkin tulisan kita bisa membuat orang lain bersyukur, mungkin bisa membuat orang lain terbuka pikirannya, mungkin bisa membuat orang lain melakukan suatu tindakan positif, dan sebagainya.

Kita tidak akan pernah tahu apa efek tulisan kita pada orang lain. Bagi saya, tidak ada saat paling membahagiakan bagi seorang penulis selain saat pembacanya mengatakan bahwa mereka mendapatkan sesuatu dari tulisan kita.

Coba rasakan pengalaman itu deh, benar-benar bermakna sekali bagi diri kita!

Keenam, menulis itu membuka pintu rezeki finansial

Ini bonus lagi, ini alasan terakhir dari pengalaman saya. Iya, blog membuka pintu rezeki finansial saya. Mungkin teman-teman mengira bahwa penulis itu mendapatkan uang hanya dari royalti menulis buku ya?  Ya, saya mendapat royalti dari buku 101 Young CEO saya. Tapi awalnya saya bisa menulis buku juga karena editor penerbitnya membaca blog saya dan merasa saya cocok menulis konsep buku 101 Young CEO tersebut! Kalau saya tidak menulis, rasanya menulis buku yang kemudian dijual di Gramedia itu masih mimpi belaka.

Tapi Alhamdulillah, banyak pintu rezeki lain terbuka lewat tulisan di blog. Saya beberapa kali menjadi blogger yang dibayar untuk meliput suatu event tertentu, atau dibayar untuk memposting suatu advertorial di blog. Lalu, belum dari lomba blog yang berjibun banyaknya ada di sana. Istri dan saya pernah mendapatkan berbagai hadiah dari lomba blog, mulai dari hanya pulsa, kaos, uang tunai 250 ribu, hingga sebuah iPad pernah kita dapatkan.

Kita tidak pernah tahu, apa pintu rezeki yang Tuhan bukakan dari menulis. Rezeki itu tidak terbatas urusan uang saja, tapi kesehatan yang membuat kita bisa terus menulis, perasaan lapang di hati setelah emosi kita tersalurkan, perasaan bermakna bagi orang lain karena tulisan kita, serta rasa bahagia yang kita dapatkan, adalah contoh rezeki lain yang dikaruniakan oleh Tuhan.

Alhamdulillah, walaupun kekurangan saya masiiiiih sangat banyak, tapi dengan menulis, saya bersyukur bisa jadi saya yang seperti ini karena banyaknya rezeki yang terbuka dari pintu yang bernama menulis ini.

Saya akan tetap menulis, untuk diri saya sendiri di masa depan. Juga untuk kamu yang terus membaca tulisan tulisan saya, semoga bisa mendapat manfaatnya 🙂

Saya sangat berharap teman-teman yang belum mulai menulis, bisa mulai menulis sekarang juga. Mulai dari menulis di blog saja, tidak perlu dipublish untuk umum kalau masih malu, yang penting mulailah menulis. Yuk sama-sama menjadi orang yang lebih baik dan bermakna dari menulis!

Apakah teman-teman yang suka menulis merasakan dan mendapatkan hal lainnya? Berbagi yuuk!

Iklan

15 pemikiran pada “Enam Manfaat Menulis yang Telah Mengubah Diri Saya

      1. ane masih cupu man, masih blum bisa sebombastis ente #sungkem

        kmaren nyoba share via facebook mobile kluar message kira2x kayak begini “blablabla..couldn’t post..”

        tp tadi nyoba share via facebook desktop bisa ternyatah.. haha

        Suka

  1. Kebetulan saya baru mulai suka menulis dan memang itu tidak lepas dari karya/tulisan orang lain yang menginspirasi saya untuk mulai ikut berbagi lewat tulisan 😀

    Suka

  2. Halo mas Ilman,
    Poin pertama bahwa menulis itu menyalurkan emosi dan menyembuhkan jiwa itu bener banget saya rasakan.untuk orang yang cenderung introvet,menulis adalah pelampiasan.kadang kesanya seperti ‘nyampah’ tapi setelah itu pikiran dan hati jadi lebih ringan.syaratnya ya sampah itu cuma saya aja yang tau,bukan buat dishare di sosmed.
    Salam kenal,ya
    Semoga tulisan2nya bisa terus menginspirasi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s