Punya Impian atau Tujuan? Jangan Ceritakan ke SEMUA Orang!

Photo Credit: looking4poetry via Compfight cc

Katanya, kalau punya impian atau suatu tujuan, kita harus cerita ke sebanyak-banyaknya orang. Supaya membuat kita makin termotivasi mencapai impian tersebut. Betul?

Nah, coba sekarang, kamu bayangkan satu impian atau tujuan yang ingin dicapai. Mungkin menurunkan berat badan, mempelajari satu hal baru, atau menjadi sesuatu, apapun! Tidak usah buru-buru lanjut membaca, bayangkan saja dulu.

Sudah? Sekarang bayangkan kamu bertemu dengan seseorang hari ini, dan menceritakan padanya apa impian/tujuan yang ingin kamu capai dan apa yang akan kamu lakukan untuk mencapainya.

Sudah? Apa yang mereka katakan? Mungkin mereka akan berkata begini, “wah, gw dukung lo banget!”, atau “itu impian yang besar, ayo semangat!”, atau “gw bisa membayangkan lo mencapainya”, atau sejenisnya.

Kamu akan merasakan perasaan senang sudah menceritakan impian kamu. Kamu juga merasakan bahwa kamu menjadi lebih termotivasi dan semangat. Kamu mungkin juga merasakan bahwa impian itu sudah terinternalisasi dalam diri, dan kamu sudah selangkah lebih maju ke impianmu. Betul nggak?

Kamu dapat membayangkan kalau kamu semakin semangat dan termotivasi setelah menceritakan impianmu ke orang lain kan?

Ups, sayangnya, berdasarkan penelitian, perasaan senang setelah menceritakan impian/tujuan kita ke orang lain justru akan membuat kita gagal mencapainya.

Photo Credit: yoshiffles via Compfight cc

Penelitian sejak 1933 menunjukkan bahwa mereka yang memberitahu impian/tujuan mereka ke orang lain, dan mendapatkan rasa senang karena orang lain meng-acknowledge (mendengarkan, mengapresiasi) impian kita itu, justru membuat kita cenderung tidak berhasil mencapai tujuan tersebut.

Saat kita membicarakan tujuan kita ke orang lain dan mereka tahu apa yang ingin kita capai, kita mendapatkan kepuasan sosial dan membangun bayangan dalam otak kita bahwa kita sudah bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut. Karena sudah ada bayangan tersebut di dalam otak kita, kita menganggap diri sudah bekerja keras, padahal belum melakukan kerja keras yang sesungguhnya.

Kalau disingkat, ini rangkaian masalahnya:

  1. Punya impian/tujuan
  2. Menceritakan tujuan itu ke banyak orang lain
  3. Diapresiasi dan didukung secara sosial
  4. Muncul perasaan senang, dan menjadi “semakin termotivasi”
  5. Justru tidak melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut

<curhat: dimulai>

Ini yang terjadi pada diri saya, 7 tahun ke belakang.

Saya merasakan bahwa menjadi pengusaha adalah panggilan jiwa, passion saya. Sejak kuliah semester 2, saya dan teman-teman membuat usaha web consultant, yang diteruskan secara full-time setelah lulus kuliah.

Sejak menemukan passion sebagai pengusaha itu, saya mendeklarasikan impian saya tersebut di blog ini. Silakan cari saja, banyak sekali tulisan seputar impian saya menjadi pengusaha muda: misalnya ini, ini, ini, dan ini.

Teman-teman saya, baik teman-teman terdekat maupun di dunia maya, meng-acknowledge atau menganggap saya sebagai pengusaha muda (bahkan hingga hari ini), dan saya merasakan apresiasi dan dukungan itu.

Padahal, akhirnya usaha saya itu dibubarkan juga pada 2011 setelah 5 tahun berjalan, karena tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan sampai titik ini, 7 tahun setelah saya mendeklarasikan diri memiliki impian menjadi pengusaha sukses, jujur saja dengan diri sendiri, saya belum mencapai impian saya itu.

<curhat: selesai>

Apa yang salah?

Setelah introspeksi diri (3 tahun ke belakang adalah masa-masa introspeksi diri) dan dihubungkan dengan penelitian di atas, ternyata dulu saya merasa senang menyebut diri sebagai pengusaha muda, dan merasa senang juga dianggap sebagai pengusaha muda dari lingkungan sosial saya.

Padahal, kenyataan yang terjadi, saya kurang maksimal bekerja dalam bisnis (maaf ya my partner, Kamal). Saya kurang banyak meng-approach calon-calon klien. Saya terlalu sering berada di kantor dibandingkan bertemu dengan banyak orang. Saya lebih suka ngoprek-ngoprek teknis (padahal sudah ada karyawan) dibandingkan mencari inovasi baru untuk bisnis. Akhirnya, usaha web consultant saya dan tim diputuskan untuk dibubarkan pada tahun 2011, dengan satu unit bisnis diakusisi/dijual 100% ke perusahaan lain.

Terlihat kan, saya yang selalu berkoar-koar bahwa saya akan menjadi pengusaha sukses, sebenarnya justru terlena dan tidak melakukan pekerjaan kerasnya untuk mencapai impian tersebut.

Impian memang jangan diceritakan SEMUA orang. Jangan diceritakan ke semua orang demi mendapatkan apresiasi, motivasi, dan kepuasan diri, yang ternyata ‘menipu’. 

Tapi, bukan berarti impian tersebut tidak boleh diceritakan sama sekali ke siapapun. Apa yang harus dilakukan kalau begitu?

1. Pertama, buat impian dan tujuan kita dalam bentuk yang akuntabel, bisa dihitung dan eksplisit. Gunakan format: dari X ke Y kapan. Milikilah impian “turun berat badan dari 70 kg jadi 60 kg dalam 6 bulan”, bukan “saya ingin kurus”. Semakin jelas apa yang mau kita raih, semakin besar impian tersebut tercapai.

2. Ceritakan impian kita dalam bahasa yang tidak memberi kepuasan dan rasa senang di diri. Jadi bukan bilang “saya daftar gym dan sudah membeli sepatu lari. Saya akan kurus, dan saya akan melakukannya!“. Bilanglah tapi “gw mau lari 30 menit setiap hari, tendang gw kalo gw males2an ya!

3. Ceritakan ke orang-orang terdekat yang dapat mengontrol kita, mengingatkan kita, bahkan menendang kita kalau kita bermalas-malasan dalam perjalanan menuju impian tersebut. Bisa pasangan kita, atau mentor, atau siapapun yang menurut kita bisa mengontrol kita menuju impian tersebut

Yang paling penting (makanya ditaro paling akhir), ceritakan tujuan dan impian kita dalam do’a-do’a kita, dalam sujud-sujud kita yang panjang, minta kekuatan dari sang Maha Pemberi Kekuatan agar kita bisa terus konsisten bekerja keras mencapai tujuan dan impian kita tersebut.

Semakin sering kita menghadirkan bayangan tujuan dan impian kita (divisualisasikan), semakin terinternalisasi pula impian itu, dan semakin keras juga kerja-kerja kita mencapainya.

Jangan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menceritakan impian kita. Habiskan itu untuk kerja-kerja keras kita mencapai mimpi kita.

Semangat!

Referensi:

Iklan

9 pemikiran pada “Punya Impian atau Tujuan? Jangan Ceritakan ke SEMUA Orang!

  1. Sebenarnya post blog mas ilman ini banyak dialami oleh orang bukan hanya katgori pengusaha muda. Disekolah saya teman2 sangat mendukung cita citanya bukan karena diceritakan tetapi meminta untuk diceritakan dan akhirnya mereka saling mendukung. Dan cita cita mereka mungkin telah didengar mungkin melalui social media,mulut ke mulut,gosip,jurusan kuliah atupun guru. Jadi masalah ini tergantung ke pribadi apakah cita cita itu memang muncul alami jauh sebelum ada apresiasi tsb. Dan karena passion Ataupun sebaliknya. Bagaimana mas pendapatnya ? 🙂

    Suka

    1. menurut saya, berdasarkan tulisan saya ini, kalau akhirnya malah jadi saling mendukung untuk mencapai tujuan itu (misalnya supaya masuk universitas negeri, guru makin rajin mengajar dan murid jadi rajin belajar sama2), itu jadi positif..

      kalau tujuannya jadi tujuan bersama, itu bagus banget kan..

      masalahnya ada di “perasaan senang/puas” setelah mengungkapkan impian tersebut ke orang lain, yang membuat kita akhirnya secara tidak sadar tidak mau berusaha dengan maksimal..

      pendapat saya paling gitu saja de 🙂

      Suka

      1. kalau saya pribadi atau mungkin yang lain juga merasa begitu. perasaan puas karena telah diakui dan disupport, berarti secara tidak langsung juga telah menjadi mindset kita, bahwa kita berpikir sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan lingkungan sekitar.itu akan menjadikan kita percaya diri dan berusaha mewujudkan itu dengan kerja keras,kalau tidak kita bisa merasa bersalah,malu,ataupun merasa gagal karena tidak memnuhi ekspetasi lingkungan kita tadi.

        Jika seumpama dulu mas ilman waktu memulai bisnis univind bersama mas kamal tidak berkoar-koar atau menceritakan impian ke banyak orang apakah univind sampai sekarang masih ada ?

        Suka

      2. Univind dibubarkan bukan karena dulunya diceritakan ke banyak orang.. Univind dibubarkan karena bisnisnya stagnan sekali padahal sudah bertahun-tahun..

        Saya yang belum jadi pengusaha, itu salah satunya karena saya puas sudah cerita ke banyak orang mau jadi pengusaha, sehingga saya jadi kurang kerja keras..

        Jadi beda antara Univind sebagai tools mencapai tujuan, dengan tujuan saya menjadi pengusaha itu 🙂

        Suka

  2. saya juga sering merasakan hal yang seperti ini. Sering kali ide muncul didalam benak saya. Hampir terealisasikan, tapi tidak lama kemudian saya ceritakan ke beberapa teman saya, dan akhirnya semua tidak jalan -_-

    Suka

  3. Mas saya sering menceritakan impian dan keinginan saya ke saudara dan teman saya… Gimana Mas? Apa saya masih punya kesempatan untuk menggapainya ? dan Jika ada orang yang bertanya tentang impian saya gimana ? apa saya perlu menjawabnya atau gimana ? Apa sarannya kak ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s