Saya Mendukung Jokowi jadi Presiden RI.. Tapi Tidak Sekarang

Jokowi Saat Kampanye, 2012

Biasanya saya nggak mau ngomentari politik. Yah, merasa nggak ada manfaatnya buat diri saya sendiri. Tapi kali ini saya mau curhat tentang Pak Jokowi yang sangat saya kagumi (walaupun dalam hati, tidak pernah dituliskan di media sosial milik sendiri ~ hey, it ryhmes!), yang sudah mendeklarasikan diri sebagai capres dari PDI-P di Pemilu 2014.

Tapi akhirnya saya menulis tentang ini karena seseorang mendukung saya untuk menyuarakan pendapat saya ini. Plus, saya warga Jakarta yang akan mendapatkan pengaruh dari apapun yang gubernur (dan wakil gubernurnya) lakukan, jadi saya merasa berhak mengeluarkan opini ini.

First of all, saya harus bilang bahwa saya tidak benci Jokowi, saya sangat menghormati sosoknya. Saat saya ke Solo urusan menulis buku tahun 2013, saya mendengar sendiri dari warga kecil di Solo testimoni mereka tentang Jokowi, bahwa dia memang sosok yang sangat dicintai rakyatnya. Perubahan yang ia lakukan di Solo itu memang benar kelihatan & diapresiasi rakyatnya, bukan cuma pencitraan media aja. Sejak saat itu saya yakin bahwa beliau memang benar sosok yang merakyat & dicintai rakyatnya.

Kemudian saat memimpin Jakarta bersama wakil gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bulan-bulan pertamanya terlihat sangat meyakinkan. Sepak terjangnya, seperti yang diliput media, menimbulkan harapan baru bagi warga Jakarta, dengan gebrakan-gebrakan yang sebagian besar ditanggapi positif, bahwa kota ini akan menjadi tempat yang lebih layak untuk ditinggali. Ya, saya dan warga Jakarta yang lain sangat  berharap kepada Jokowi dan Ahok agar Jakarta berubah.

Beberapa bulan kemudian, entah siapa yang memulai, media mulai merilis hasil dari lembaga survei ang menunjukkan keterpilihan figur Jokowi untuk menjadi calon presiden. Kemudian survei demi survei berikutnya terus dirilis, popularitas beliau terus menanjak naik. Opini publik seperti digiring untuk mengatakan, “Jokowi adalah calon pemimpin terbaik yang ditunggu-tunggu Indonesia.Baca lebih lanjut

3 Langkah Mudah Memilih Caleg di Pemilu Legislatif 9 April 2014

contreng

Minggu depan, Rabu 9 April 2014 adalah tanggal penting kita. Di hari itu, pemilihan umum legislatif diadakan serentak se-Indonesia untuk memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD. Sudah tahu mau memilih siapa, atau masih bingung, atau sudah yakin untuk golput, atau malas mengikuti politik begini?

Terus terang, saya hampir aja golput, malas ngikutin politik-politikan. Ah, politikus, sama aja tikusnya semua. Sama-sama korupsi juga nantinya. Sebelum pemilu sok-sokan dekat sama rakyat, begitu terpilih lupa deh sama yang milih. Ngeliat berita anggota dewan yang ada sekarang, korupsi lah, bolos lah, tidur lah, haah, saya merasa hopeless banget.

Padahal sebenarnya, kalau boleh jujur, saya malas. Sudah keburu malas aja melihat ribuan calon-calon anggota legislatif (caleg) itu, malas dan bingung sekali buat mengenali mereka satu-satu.

Saya juga nggak tahu apakah saya terdaftar untuk memilih? Di Pilkada DKI 2012 kemarin saya aja nggak terdaftar di TPS manapun. Terus, sosialisasi dari KPU-nya nggak jelas (atau sayanya yang nggak merhatiin?), kartu pemilihnya mana bakal dikasih apa nggak nih, dan masih banyak lagi hal yang membuat saya malas memperhatikan ajang pemilihan umum ini.

Padahal, saya tahu banget legislatif itu penting banget diisi oleh orang-orang “bener” dan baik. Fungsi legislatif itu kan membuat peraturan, baik undang-undang atau peraturan daerah, untuk dijalankan oleh eksekutif (presiden, gubernur, walikota/bupati, beserta jajaran-jajarannya). Kalau kita tidak memilih orang yang bener, peraturan yang dibuat pun nggak bakal bener, mereka ya bakal korupsi lagi, kapan Indonesia jadi bener? Makanya harusnya kita memilih orang-orang baik untuk duduk di kursi dewan supaya kejadian kaya yang kita lihat di berita sekarang tidak terjadi lagi.

Dalam kondisi begitu, eh alhamdulillah saya dapet pencerahan karena melihat berita “Bingung Cari Profil Caleg 2014, Kunjungi Situs Ini“. Saya jadi dapet jawaban atas malesnya saya melihat profil caleg. Sebelumnya, saya juga melihat beberapa teman FB menshare bahwa mereka sudah terdaftar di datanya KPU, dan mereka sudah siap memilih. Wah, kalau teman-teman saya sudah memilih semua, kenapa saya tidak?

Oleh karena itu, saya bikin postingan ini, mudah-mudahan bisa membantu teman-teman yang sempat bingung atau malas seperti saya juga.

Inilah 3 (tiga) langkah mudah untuk memilih anggota legislatif di pemilu legislatif 9 April 2014

Apa aja tuh langkah-langkahnya?

Cara Mempersiapkan Diri Menjadi Pemimpin Masa Depan Sejak Kuliah

Sejak SMA, saya aktif berorganisasi maupun berkepanitiaan. Saya “mencicipi” berbagai kegiatan mulai dari OSIS, panitia acara maulid, buku tahunan, dsb waktu zaman SMA. Saat kuliah saya pernah jadi panitia berbagai seminar & acara, jadi ketua panitia Ospek di kampus, serta saya tidak pernah berhenti aktif di BEM fakultas di mana saya pernah diamanahkan menjadi ketuanya.

Saya terus aktif berorganisasi dan berkepanitiaan selama di kampus karena saya pernah dengar bahwa berorganisasi/kepanitiaan akan mengembangkan kemampuan leadership serta soft skill seperti komunikasi dan kerjasama tim.

Dulu saya menjalankan aktivitas itu tanpa mikir benar atau tidaknya pernyataan itu. Tapi sekarang, lima tahun setelah lulus kuliah, kini saya sudah bekerja dan berkeluarga, saya menemukan bahwa hal itu benar adanya.

Mahasiswa akan memiliki attitude yang baik dalam bekerjasama dengan orang lain jika dia memiliki karakter dan jiwa pemimpin, jika dia telah mempersiapkannya dengan melakukan berbagai kegiatan kepemimpinan sejak kuliah

Di dunia pasca kampus (dunia profesional), mereka yang kariernya cepat berkembang dan manfaat yang dirasakan banyak orang adalah mereka yang memang, gampangnya, punya jiwa kepemimpinan yang tinggi. Salah satunya cirinya adalah sikap atau attitude, seperti yang pernah saya tuliskan di tulisan tentang pengalaman saya kerja dengan anak-anak magang di kantor saya.

Mereka memiliki karakter inisiatif tinggi dan tidak selalu menunggu disuruh atau diminta, berkomunikasi dengan baik & sopan dengan orang lain, mengerjakan tugasnya dengan baik, serta bisa bekerjasama dalam tim dan tidak menganggap dirinya yang paling bisa segalanya.

Mungkin kamu berpikir, “ah, saya nggak bakat dan nggak perlu lah jadi pemimpin, untuk apa?

Saya pribadi tidak setuju dengan pemikiran  yang kurang tepat itu. Semua orang adalah pemimpin, ya pemimpin dirinya sendiri. Nanti juga kamu akan menikah dan memiliki anak, dan jadi pemimpin dalam keluarga. Betul kan?

Semua hal yang terjadi di dunia ini, semua dimulai dari diri sendiri. Kita tidak mungkin bisa memimpin orang lain kalau diri sendiri saja tidak bisa dipimpin. Jadi, hal pertama yang harus kita bangun adalah jiwa kepemimpinan dalam diri sendiri.

Bagaimana cara membangun jiwa kepemimpinan?

Selamatkan TKI Satinah dari Hukuman Penggal dengan Donasi Kita!

Long story made short: ada seorang TKI di Arab Saudi, bernama Ibu Satinah, yang terkena kasus pembunuhan majikannya. Sebagaimana hukum Islam yang diterapkan di Arab Saudi, berlaku qishosh, alias hukuman yang setimpal dengan kejahatannya. Membunuh? Ya hukuman mati.

Setelah melewati berbagai proses, keluarga korban akhirnya memaafkan Satinah jika  membayarkan denda kepada keluarganya.

Berapa besar dendanya? 21 miliar rupiah, dan itu harus dibayarkan sebelum 3 April 2014, karena jika itu terjadi, Ibu Satinah akan dihukum penggal.

Masalahnya, uang yang dimiliki pemerintah kita tidak sampai 21 miliar. Melanie Subono, seorang artis yang gw baru tahu kalau ternyata dia relawan sosial di Migrant Care, membantu menyuarakan kasus ini ke kita semua, untuk membantu menyumbang berapapun yang kita punya.

Here you go, berikan berapapun yang kamu miliki, transfer segera ke rekening-rekening ini:

  • BCA 2191221666 a.n. Melanie Subono
  • CIMB Niaga 908.01.00670.003 a.n Migrant Care

Mohon, mohon sekali, bahkan kalau teman-teman hanya punya 10 ribu di saldo BCA teman-teman (ini batas minimal transfer di BCA), transfer saja ke sana.

Bersamaan dengan do’a-do’a kita terhadap Ibu Sutinah, mohon juga sebarkan juga informasi ini ke orang lain yaa. Kita tidak punya banyak waktu, kurang dari DUA MINGGU LAGI!

Note: merasa kritis tentang ini, khawatir ini merupakan hoax atau tipu-tipu? Gw juga awalnya merasa begitu, tapi lanjutkan membaca postingan ini, gw jelaskan cerita latar belakangnya.

#SaveSatinah

Ini yang gw lakukan kemarin

Tips Membuat Bisnis Tanpa Modal Sama Sekali

gope (500 rupiahs)

Percayakah teman-teman kalau kita bisa membuat bisnis tanpa modal uang sama sekali? Yang dibutuhkan cuma empat hal lho: keberanianpengetahuankoneksi, serta kepercayaan.

Coba baca deh jokes di bawah ini, kemungkinan teman-teman pernah membaca jokes seperti ini:

Ayah : “Anakku, aku ingin kamu menikah dengan wanita pilihan Ayah!”
Anak : “Maaf, Ayah! Aku hanya akan menikah dengan wanita pilihanku sendiri.”
Ayah : “Tapi, Anakku, Wanita ini adalah anaknya Bill Gates…”
Anak : “Ah, Serius, Yah? Kalo gitu, Ok, deh!”

Hari berikutnya, Sang ayah mendekati Bill Gates
Ayah : “Saya telah memilihkan calon suami untuk anakmu…”
Bill Gates : “Tapi, anakku masih terlalu muda untuk menikah sekarang.”
Ayah : “Weits, tunggu dulu. Calon yang aku pilihkan ini adalah Vice President (VP) dari Bank Dunia.”
Bill Gates : “Ah, Serius Lo? Kalo gitu, Ok, deh!”

Akhirnya Sang Ayah mendekati President Bank Dunia
Ayah : “Saya memiliki seorang anak muda yang bisa dijadikan Vice President (VP) untuk kamu.”
Presiden : “Oh, maaf, saya sudah memiliki banyak calon VP untuk itu.”
Ayah : “Tapi kamu tidak tau, kan, Anak laki-laki ini adalah menantunya Bill Gates.”
Presiden : “Ah, Serius Lo? Kalo gitu, Ok, deh!”

Kalau dikaitkan dengan empat hal yang dibutuhkan untuk berbisnis tanpa modal uang, si Ayah jelas punya keberanian, berani ‘menjual’ anaknya ke tokoh-tokoh besar itu, bahkan saat anaknya belum jadi siapa-siapa.

Si Ayah juga punya pengetahuan bahwa ternyata begini loh caranya melobi orang. Si Ayah juga punya koneksi, alias networking atau jaringan. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa ngobrol dengan Bill Gates & Presiden Bank Dunia.

Terakhir, Si Ayah punya kepercayaan dari sang anak, Bill Gates, dan Presiden Bank Dunia. Perkataan Si Ayah langsung dapat dipercaya oleh semua pihak.

Apa pelajarannya dalam bisnis?

Enam Manfaat Menulis yang Telah Mengubah Diri Saya

Writing
Photo Credit: Rubin 110 via Compfight cc

Saya tidak ingat kapan PERTAMA KALI saya menulis sesuatu yang benar-benar dari buah pikiran saya. Jejak paling tua yang saya ingat mengenai menulis adalah saat SMP, di masa-masa pergantian milenium, saya menyalin dongeng dan cerpen dari majalah Bobo ke komputer pertama keluarga saat saya belajar mengetik 10 jari.

Saya tidak pernah punya diary berkunci gembok, saya juga tidak mengisi kertas file/binder saya dengan tulisan saya (isinya foto musisi Jepang dan testimoni teman sekelas, haha). Yang saya ingat, saya pernah menulis sebuah surat cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ternyata si dia sudah punya pacar, lalu saya bakar di atas rumah.

Ingatan terbaik saya tentang tulis-menulis adalah saat SMA akhir tahun 2005, saya membeli dan membaca satu buku praktis untuk belajar menulis berjudul “Daripada Bete, Nulis Aja!” karangan Caryn Mirriam-Goldberg. Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca, ngomong-ngomong.

Kemudian ingatan saya melompat langsung ke tahun 2006, semester dua di universitas, di mana di situlah saya pertama kali berkenalan dengan blog dan mulai menuliskan curhatan pertama saya, yang terus lanjut hingga di tulisan yang sedang kamu baca ini, 8 tahun kemudian.

Sepertinya saya tidak perlu mengingat sejak kapan saya pertama kali menulis, karena yang pasti menulis telah mengubah diri saya hingga seperti sekarang ini. Alhamdulillah..

Di tulisan ini, saya mau berbagi lima hal yang saya pribadi dapatkan dan rasakan manfaatnya dari menulis. Di buku “Daripada Bete, Nulis Aja!”, ada 12 alasan mengapa kita harus menulis, namun di sini, saya mau berbagai enam hal saja versi saya sendiri, yang dirasakan secara konkret oleh saya atau orang-orang terdekat saya, dari aktivitas menulis/ngeblog yang dilakukan secara rutin.

Apa saja manfaat dari menulis?

Harapan Itu Masih Ada

Start of the Day hamad M via Compfight

Terkadang, saya merasa Indonesia sudah tidak bisa diselamatkan. Baik di media massa atau langsung dari mata kepala, terlihat telah nyata berbagai kerusakan.

Terkadang, saya merasa Indonesia sudah sedemikian parahnya. Dari sinetron tidak masuk logika, tawa canda tidak ada manfaatnya, gosip rumah tangga artis entah siapa, semua tersaji gratis di layar kaca.

Terkadang, saya merasa bahwa Indonesia sudah tidak punya harapan untuk jadi lebih baik lagi. Generasi mudanya kecanduan pornografi dan seks tanpa ikatan resmi, iklan-iklan rokok yang sengaja diincar agar mereka adiksi dan menjadi pembeli, lagi, lagi, dan lagi.

Terkadang, saya merasa bahwa nilai-nilai kebaikan dasar manusia seperti kejujuran dan mendahulukan kepentingan umum sudah tidak ada. Berita korupsi bermunculan di berita, mencontek dan menyogok sudah dianggap biasa saja, jalan raya penuh dengan orang-orang yang seenak perutnya.

Terkadang, saya merasa manusia-manusianya sudah bebal dan tidak bisa diubah. Di jalan, di kali, di manapun, semua jadi tempat sampah. Begitu banjir melanda mereka menyalahkan pemerintah.

Terkadang, saya ingin pergi saja dari Indonesia, mengajak anak, istri, serta orang tua dan mertua, untuk hidup di negara tetangga, mungkin beda benua, yang lebih ramah bagi mereka yang ingin hidup sebagai manusia seutuhnya.

Tapi saat perasaan itu menyeruak di dalam hati, saya segera menatap wajah sang buah hati.

Pada wajah polos dan mata bercahaya itu, harapan saya akan kemajuan Indonesia kembali muncul di kalbu.

Jika Indonesia yang lebih manusiawi belum hadir di zaman hidupku, saya percaya itu akan hadir saat ia sudah menjadi seorang ibu.

Saya sedang berada dalam perjalanan menjadi ayah penuh cinta nan menginspirasi, agar ia kelak tumbuh menjadi gadis yang hidup sepenuh potensi dirinya serta menjadi ibu nan mencintai.

Karena untuk membuat dunia berubah, hanya diri sendiri yang perlu diubah. Dan saya sedang berubah, agar negeri ini kelak menjadi semakin indah.

Harapan itu ada di pundakmu, nak!