Setelah Menikah, Jangan Pernah Kasih Kabar Jelek untuk Orangtuamu!

Perhatian buat kamu-kamu, para anak yang ingin menikah:

Setelah menikah, orang tua tidak ingin mendengar kabar jelek dari anaknya. Gw ulangi lagi: setelah menikah, jangan pernah kasih kabar jelek untuk orangtuamu. Nasihat ini sudah beberapa kali mamah berikan kepada gw sejak sebelum gw menikah.

Kenapa? Karena kamu adalah anaknya, orangtuamu selalu memikirkanmu. Orangtua pasti akan selalu ingin anaknya dalam kondisi yang baik-baik aja.

Karena itulah, saat kamu mengabarkan berita jelek, orangtuamu akan ikut memikirkan kabar jelek itu, mencoba mencari solusi masalah itu. Itu bentuk rasa kasih sayang mereka kepada kita.

Ingin bukti?

Di suatu kesempatan main ke rumah Bapak (gw merefer bapak & mama untuk mertua, dan papah & mamah untuk orangtua kandung) setelah menikah, gw bercanda ke mereka,

“Apa kita jual aja ya beberapa kado supaya bisa beli magicom?” (jadi kita dapet banyak sekali kado, tapi kita belum punya magicom (rice cooker + magic jar).

Beberapa hari kemudian, gw udah lupa percakapan itu. Tapi dapet kabar kalo Bapak sakit.

Ternyata, kakak ipar & mama bilang, dari sejak terakhir kita ke rumah Bapak, Bapak terus-terusan nanya ke mama, “harga magicom itu berapa ya?”.

Ternyata Bapak mikirin itu terus, mikirin kita yang nggak bisa masak nasi (padahal sih tetep bisa masak). Hiks, bener-bener besar ya rasa kasih sayang mereka, ga akan pernah berhenti mikirin kita meski kita nggak mikirin mereka.

Family Portrait

Saat kamu sudah menikah, kamulah yang bertanggung jawab atas hidupmu, atas pasanganmu, atas keluargamu. Orangtuamu sudah tidak bertanggung jawab atas dirimu. Sebaliknya, mereka adalah tanggung jawabmu, di hari tua mereka.

Jadi, hanya berikan kabar gembira kepada orangtuamu. Plus do’a dan berbagai bentuk bakti lainnya, itulah bentuk balasan anak kepada orangtuanya (walaupun tetap saja tidak akan bisa membalas 100% apa yang telah mereka lakukan).

Iklan

5 pemikiran pada “Setelah Menikah, Jangan Pernah Kasih Kabar Jelek untuk Orangtuamu!

  1. ??? ????? ?????? ??????
    iyya kang, pilah&pilih kabar yg baik aj ke k mrka (baik ortu&mertu).
    Doain ane cepet nyusul ente ya 🙂

    Oiy,lupa mndo’akan. Maaf bgd yaa,jrg buka fb jd kelewat deh kabar gembra ente :).

    Barokallahu laka, wa barokallah ‘alayka wa jama’a baynakumaa fy khoyr 🙂

    ‘Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan memberkahi (pernikahan)mu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan’
    (HR. Abu Dawud no 2130)
    ???????? ?? ????? ?????????????

    Suka

  2. Hmmm.. sebenarnya nggak bisa digeneralisasi seperti itu sih man… harus diliat kasus per kasus…

    Pinter-pinter kitanya aja mana yang bisa di-share mana yang nggak. Nggak cuma ke orangtua aja, juga ke keluarga, sahabat, atau orang lain…

    Dan sekali lagi, itu kasus per kasus. Karakteristik tiap orang tua itu berbeda-beda. Reaksi nya juga berbeda-beda…

    Ditambah lagi, sebenarnya frase kabar jelek juga mempunyai definisi yang beragam. Bagi seseorang, mungkin kabar tertentu itu jelek, tapi menurut orang yang lain tidak.

    Gitu sih… intinya pinter-pinter memilah-milah mana yang bisa di-share mana yang tidak. Dan yang paling tau tentang hal itu pastinya adalah pasangan tersebut, karena mereka subjek utama kehidupan mereka.

    Suka

    1. kasus per kasus sih jelas iya, “pinter-pinter memilah-milah mana yang bisa di-share mana yang tidak” itu juga setujuu!

      tapi yg jadi intinya juga adalah “jaga perasaan orang tua” ya, dan kita harusnya tahu tentang itu..

      Suka

  3. Wah.. inspiratif bgt, dan ane bener-bener pernah ngalami yg kayak gini. Ane share ke ortu ttg istri ane, eh ternyata ampe dibahas ke kakak-kakak ane. Tentu aja ane jadi sadar, bbrp waktu yg lalu ane cuman sharing dikit, gk taunya jadi kasus yg bener-bener kepikiran orang tua & netes ke keluarga ane. Ya Ampun..

    trims ya kang, mulai skrg ane belajar utk lebih selektif dalam berbicara masalah rumah tangga deh. secara, umur pernikahan baru banget, blm ada 2 bulan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s