Sekarang Saya adalah Full-time Entrepreneur :)

Sejak tahun 2007 awal, atau kira-kira di tahun kedua gw kuliah, gw sudah memutuskan mau jadi apa gw nantinya, dan apa impian yang bakal gw kejar di masa depan. Ya, dari dulu gw telah memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, alias seorang pengusaha, atau wirausahawan, seperti yg pernah gw tulis di sini (Februari 2007) dan di sini (Juni 2007). Akan tetapi, selama kuliah menyelesaikan program sarjana Ilmu Komputer di Universitas Indonesia, gw nggak bener2 full jadi pengusaha, karena masih ada kewajiban utama yang dijalankan, yaitu jadi mahasiswa.

Alhamdulillah, sejak lulus bulan Agustus 2009 yang lalu, gw resmi menyandang status full-time entreprenur, karena itulah kegiatan yang gw lakukan setiap hari, impian yang gw kejar, dan itulah lentera jiwa gw. Gw harus benar-benar bersyukur banget karena dulu diajak sama brother, best friend, soulmate, business partner gw, Mustafa Kamal, buat gabung di usaha yang jadi cikal bakal Univind saat ini. Coba dulu gw nggak diajak, bisa-bisa jalan hidup gw lain dari yang sekarang gw jalankan.

Univind sekarang masih dimiliki oleh 6 orang founder dan co-founder-nya, yang menyetor modal lagi dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingin 3 tahun lalu. Sehari-harinya, Univind dijalankan oleh gw sendiri dan Kamal, karena kita berdua yang “nekat” jadi pengusaha fulltimer, tanpa sekalipun mencoba melamar pekerjaan di perusahaan lain. Dia menjabat sebagai president director-nya, sedangkan gw jadi vice president-nya.

Alhamduilllah berkat modal tersebut, dan sisa uang selama ngejalanin usaha saat kuliah, Univind bisa nyewa rumah kontrakan untuk dijadikan kantor, setelah dipasang telepon dan internet. Oh iya, kalau September-Oktober 2009 pada masih ngeliat gw bolak-balik kampus, itu karena kantor gw belum berfungsi optimal, internetnya belum nyala di situ. Tapi sejak awal bulan November 2009 hingga sekarang, Univind alhamduilllah berjalan dengan full setiap hari.

Sehari-harinya, kita ngejalanin anak perusahaan Univind di bidang web hosting dan domain yang bernama [N]eoHoster. Neohoster ini awalnya didirikan secara pribadi oleh Eko Sulistyo, S.Kom (Fasilkom 2005) sebagai side project-nya aja pada awal 2008. Namun seiring dengan semakin banyaknya klien NeoHoster, Eko semakin pusing megang semuanya sendiri. Pada akhirnya, awal 2009, NeoHoster resmi dimerger dengan Univind, dan berada di bawah manajemen Univind.

Alhamdulillah, inilah berkahnya usaha yang halal, jujur, dan diseriusin.. Awal bulan ini, Pak Yugo K. Isal (dosen Fasilkom UI) menginvestasikan sejumlah uangnya untuk membantu pengembangan Univind (spesifiknya untuk NeoHoster). Uang investasi itu kita beliin server sendiri, dan alhamdulillah kita bisa ngerekrut satu orang karyawan fulltimer untuk jadi customer support NeoHoster. Oh iya, Eko itu nggak masuk jajaran direksi Univind, karena beliau untuk sementara ini kerja di Pusilkom. Tapi karena NeoHoster ini dia yang mendirikan, jadi Eko masih cukup banyak ikutan kerja membantu NeoHoster. Insya Allah, setelah omset NeoHoster meningkat, Eko bakal keluar dari Pusilkom, dan mengikuti jejak gw dan Kamal sebagai full time entrepreneur.

Juga, sehari-hari kita ngejalanin dan ngurus anakUI.com, ngurusin tulisan, mempersiapkan untuk pemasangan iklan, dsb. Juga menyambut tawaran-tawaran proyek yang datang. Alhamdulillah, 2 bulan terakhir ini ada sekitar 7-8 tawaran proyek (dulu itu sebulan cuma 1) yang masuk ke Univind dan sudah di-follow up dengan berbagai meeting dan pengiriman proposal penawaran. Tapi dari sekian banyak itu, belum ada yang deal. Do’akan ya, mudah-mudahan semuanya lancar, amiiin..

Ya, itulah sedikit gambaran hidup gw selama 2-3 bulan terakhir. Berangkat tiap hari ke kantor, kadang2 keluar buat meeting atau ikut kegiatan lain. Kalo ga ada apa-apa di luar, gw ngerjain berbagai kerjaan di atas di kantor. Lalu pulang biasanya abis Isya, dan besok menjalani hidup seperti itu lagi. Membosankan? Oh, alhamdulillah tidak, karena tiap hari adaa aja hal baru yang dikerjakan atau ditemukan :D.

Terakhir, belakangan ini saya makin sering denger kalo banyak juga yang pengen jadi pengusaha, dan nanya2 gimana caranya, atau apa yang harus dilakukan. Kalo gw boleh jawab berdasarkan pengalaman gw kebelakang, meskipun gw belum sukses jadi pengusaha,  gw bakal ngasih beberapa masukan kecil:

  1. Ide usaha itu paling penting. Kita bisa mengamati sekeliling kita, apa kira2 yang bisa dijadiin peluang bisnis. Tapi ga mesti kita yang punya ide sendiri, kita juga bisa gabung dengan ide orang lain. Kaya gw aja, kan gabung dengan idenya Kamal dulu.
  2. Kalo udah punya ide usaha, coba diperdalam sedikit idenya dengan baca2, diskusi, dan mikir2. Tapi jangan kebanyakan dipikir sampe terlalu detail (kaya gimana balik modalnya, dsb, dll). Kalau udah ada gambaran gimana usahanya, mulai aja langsung. Mulailah dari hal kecil yang bisa kita lakukan langsung. Nyebur, alias learning by doing, adalah guru terbesar 😀
  3. Banyak-banyak belajar, jangan pernah berenti belajar tiap hari. Baca, nulis, diskusi, coba-coba sendiri, kembangin ilmu bisnisnya. Cari mentor bisnis, yang udah pernah ngejalanin bisnis serupa duluan. Efeknya mantep banget.
  4. Perluas jaringan. Ini hal yang paling wajib (tuh, udah wajib, masih ada ‘paling’-nya lagi) dilakukan oleh setiap pengusaha. Tidak ada pengusaha yang sukses tanpa jaringan yang luas. Kalo kita punya jaringan yang luas, kita punya banyak sumber ilmu, berbagai kesempatan kerjasama, dan manfaat-manfaat lainnya yang tidak bisa kita bayangkan.
  5. Siapin mental jangan pernah menyerah, berani ngambil resiko, selalu bersikap positif dan penuh harapan, peka terhadap peluang. Karena masa depan pengusaha itu nggak pasti sama sekali. 🙂
  6. Jangan mikir jadi pengusaha itu harus ninggalin kerjaan yang ada sekarang. Cuma orang gila aja kaya gw dan Kamal yang bener2 ga mau nyari kerja ama orang XD. Buat awalan, sambil ngejalanin kerjaan kita sekarang, kita bisa kok mulai usaha kecil-kecilan. Saat makin berkembang, baru deh kita bisa minta resign dari kerjaan kita.

Dan terakhir banget, buat gw, jadi pengusaha atau tidak itu cuma pilihan kita. Nggak ada yang lebih keren, lebih manteb, atau lebih mulia antara satu sama lain. Semua tergantung manfaat yang bisa diberikan untuk orang lain, dan ketaqwaan kita di mata Tuhan. Saya saat ini menjalani hidup sebagai pengusaha karena 2 tahun lalu saya memutuskan akan menjadi seperti saya sekarang. Jadi kawan, apakah kalian sudah memutuskan mau jadi apa di masa depan? 🙂

Link-link tentang usaha gw:

  1. Website Univind (beta version)
  2. Blog Univind
  3. [N]eoHoster, tempat sewa hosting dan domain yang murah, berkualitas, dan terpercaya 😉
  4. anakUI.com, Komunitas Mahasiswa UI di Internet.

Apa yang Harus Kita Lakukan Kalau Kehilangan Passion?

Saya cukup sering menulis tentang passion atau “lentera jiwa“, yaitu sesuatu yang meledak-ledak dalam hati, yang kita sangat cinta kepadanya (setelah cinta kepada Tuhan tentu saja 🙂 ) dan mendorong kita untuk terus melakukan hal yang kita cintai tersebut.

Idealnya kita memang terus menjaga passion tersebut, menumbuhkannya, dan memanfaatkannya hingga kita bisa meraih mimpi kita. Nah, tapi bagaimana kalau kita tiba-tiba kehilangan passion? Kita merasa bosan, capek, males, akan hal-hal yang tadinya kita selalu semangat untuk menjalankannya? Yah, kan namanya juga manusia, yang ada masa naik ada masa turunnya juga. Pastinya hampir semua orang pernah mengalami itu.

Saya pernah mengalami rasa kehilangan passion beberapa kali: kehilangan passion buat disain, bermain musik, juga ngeblog. Dua yang pertama tidak saya kembalikan lagi passionnya, karena itu ternyata memang bukan passion sejati alias lentera jiwa saya, sedangkan yang terakhir alhamdulillah sudah kembali lagi. Buktinya ini blog sudah diupdate rutin lagi bukan? 😀

Nah, saya pun penasaran, sebenernya gimana sih yang harus kita lakukan kalau kita kehilangan passion kita, padahal sebelum-sebelumnya kita sangat suka terhadap hal itu? Saya pun melakukan survey singkat lewat Plurk dan Twitter, bertanya, “jika kalian kehilangan passion terhadap sesuatu yang tadinya kalian sukai, apa yang akan kalian lakukan?

Alhamdulillah, teman-teman, sahabat, dan kenalan saya yang dari dulu hingga sekarang menginspirasi saya memberikan jawaban yang sangat inspiratif. Ini saya bagi buat teman-teman semua:

Plurk

AYAz: mencoba hal baru sampai passion itu balik lagi *biasanya sih ilang krn entah jenuh atau bosan memikirkan hal itu*
ace: reunian dengan kesan pertama..
ferdi_dolot: merenung, kenapa bisa terjadi, cari tau masalahnya, solve problemnya
agungfirmansyah: Passion kn byk jnisnya. Kl passiony brbentuk minat ato hobi,y gpp. Mgkn dh wkt ny gnti. Tp, Kl ad kwajiban qt ato hak org lain yg trganggu krn hilangny passion, maka qt hrus te2p lakukn kwjibanj. r
safitridisini: Paksain kecebur di hal tsb.Hoho
kika: Cari passion lain
e_rain: mencari tahu kenapa dulu bisa suka bgt sm hal itu. Bisa aja cuma imaji tak berdasar yg bikin kita ngawang2. Klo memang iya, brarti itu bukan passion kita yg sbenarnya mungkin, cm ksenangan sesaat
BangGanteng: cari passion lagi
phiolete: tidur aja Man…lupain sejenak

Twitter

@byto: coba tarik diri dlu dr hal itu, temukan hal lain yg menyenangkan, lalu kembali. Pasti kangen 🙂
@fanther: mencari suasana yang baru atau merenung
@valentmustamin: aku ga pernah kehilangan passion terhadap apa aja. kayak apotik aja, 24 jam sehari :p

Dari semua jawaban-jawaban tersebut, bisa kita simpulkan beberapa hal, apa saja pilihan hal yang harus kita lakukan saat kehilangan passion kita:

  • Kehilangan passion bisa terjadi karena jenuh, bosan, akibat rutinitas dalam menjalankan passion tersebut. Tinggalkan atau lupakan sejenak saja rutinitas tersebut, dengan melakukan hal lain, hingga akhirnya kita rindu lagi untuk kembali.
  • Merenung lagi baik-baik, menganalisa apa yang sudah kita lakukan, mencari tahu mengapa bisa suka dengan hal itu, kemudian bertanya, “benarkah ini passion kita?”
  • Mencari passion yang baru, yang benar-benar berbeda. Siapa tahu passion kita bukan di passion yang lama?
  • Mengingat-ingat pengalaman pertama saat kita benar-benar gembira melakukan hal yang menjadi passion kita itu. Pengalaman pertama selalu menarik bukan?
  • Memaksakan diri untuk tetap berada di situ, terutama kalau itu berhubungan dengan kewajiban kita terhadap orang lain.

Di antara pilihan-pilihan di atas, mana yang akan diambil pastinya sangat relatif, bergantung pada kondisi masing-masing. Saat teman-teman pernah kehilangan passion, pilihan mana yang teman-teman ambil? Atau adakah cara lainnya?