A Tribute to Paolo Maldini

Paolo Maldini (goal.com)

Malam ini, Minggu 24 Mei 2009, adalah pertandingan spesial bagi Paolo Maldini, karena di pertandingan antara AC Milan vs. AS Roma inilah, Maldini akan menjalani laga terakhirnya bersama AC Milan di hadapan publik Milan, di stadion Giuseppe Meazza, San Siro, Milan. Bukan pertandingan terakhirnya sebenarnya, karena minggu depan ia masih mungkin bermain untuk benar-benar yang terakhir kalinya di stadion Firenze, dalam laga tandang melawan Fiorentina. Tapi yang pasti, musim ini adalah musim terakhir Paolo Maldini, karena pemain berusia 41 tahun ini (lahir 26 Juni 1968) akan pensiun menjadi pesepakbola profesional.

Ia akan pensiun dengan meninggalkan banyak sekali kehormatan dan kebanggan bagi dirinya sendiri, AC Milan, klub yang dibelanya sejak berusia 16 tahun hingga saat ini belum pernah pindah klub, dan tim nasional sepak bola Italia, karena Maldini telah menjadi sebuah legenda.

25 tahun setia membela AC Milan dan memberikan 7 kali juara Serie-A, 1 Copa Italia, 1 Piala Super, 5 juara Champions, 5 juara UEFA, 1 juara Piala Dunia Antar Klub, dan 2 juara Interkontinental, plus saat ini memegang rekor caps (penampilan bersama tim nasional) terbanyak, beserta sederet prestasi lainnya di lapangan. Plus, dia tidak pernah membuat masalah di luar lapangan (seperti mabuk-mabukan, mempermainkan wanita, dll), sekaligus seorang ayah dan suami yang baik. Itulah mengapa Maldini saat ini dianggap lebih dari sekedar pesepakbola; ia adalah seorang figur yang layak diteladani, seorang legenda. Dalam semua hal, saya sangat sependapat dengan tulisan ini. Tidak heran banyak orang yang memujinya dan kagum dengan sepak terbangnya selama 25 tahun menjadi pesepakbola profesional.

Seperti ribuan (mungkin jutaan?) orang di seluruh dunia yang menjadi fans seorang Maldini, gw pun demikian. Namun, tahukah teman-teman, kalo gw sudah menjadi fans seorang Paolo Maldini sejak 15 tahun lalu? Dan sampai sekarang, kekaguman dan kesalutan gw ke Maldini belum berubah, bahkan makin bertambah..

Gw memiliki semacam ikatan emosional dengan Maldini, karena 15 tahun lalu, saat gw berusia 6 tahun, gw pernah membaca profilnya di Majalah Bobo.. Gw ga yakin apakah saat itu gw udah ngerti tentang sepak bola, namun Maldinilah yang saat itu lekat di pikiran gw sebagai salah satu pesepakbola kelas dunia yang gw kenal pertama kali.. Artikel Bobo itu keluar beberapa saat setelah Piala Dunia 1994 berakhir (dengan Italia menjadi juara 2)..

Sampe sekarang gw ga akan lupa kalo artikel tersebut menyebutkan bahwa Maldini adalah pemain terbaik dunia versi World Soccer Magazine, sementara hampir semua yang mendapatkan gelar tersebut adalah seorang striker.. Setelah beberapa belas tahun berlalu, gw menemukan perkataan lengkapnya yang sangat rendah hati setelah mendapatkan gelar tersebut:

It’s a great honor for me to know that so many people consider me so highly. It’s a particular matter of pride because defenders generally receive so much less attention from fans and the media than goalscorers. We are more in the engine room rather than taking the glory. I must admit that, for me, 1994 was the peak of my career so far. For any player to win the Champions Cup or to play in the World Cup Final would be enormous single matter of pride — but I was fortunate enough to be able to experience both those pinnacles of the game within a matter of weeks. Of course, whatever success I may have achieved is not merely down to my own credit. There are other people and influences on my career it would be only fair to acknowledge.

Everyone always asks me about my father, Cesare, who captained Milan to their first Champions Cup victory in 1963 and is now our national under-21 coach. But I don’t really remember him as a player. I played under his instructions in Milan youth teams when I was a boy but really I learned more from him about being a man, about a correct attitude to the game, than from a technical point of view.

Then, there has been my captain and colleague Franco Baresi. In my opinion he has received far too little recognition for his influence within the club and within Italian and international football. He is the man of few words but ‘talks’ instead through his deeds out on the pitch. He really deserves to receive the sort of award I have received from World Soccer. But … thank you again!

Setiap orang akan dikenang oleh orang lain atas perbuatan baiknya, manfaat yang diberikannya, serta inspirasi yang ditunjukkan. Maldini telah menunjukkan itu semua kepada seluruh dunia, khususnya bagi seluruh pemain sepak bola serta para fansnya.

Jika gw boleh menyimpulkan beberapa inspirasi yang gw dapatkan dari sesosok Paolo Maldini, gw mendapatkan:

  1. Loyalitas dan dedikasi, ditunjukkan oleh 25 tahun pengabdiannya pada AC Milan, tanpa pernah sekalipun berganti klub.
  2. Kerendahhatian, dia tidak sombong, dia mengakui bahwa apa yang ia capai tidak akan dapat dia capai sendirian
  3. Kerja keras, dapat bermain sepak bola di level tertinggi sampai usia 41 tahun adalah sesuatu yang sangat jaraaang dapat diraih pesepakbola lain.. Kondisi fisik prima ini pasti didapat dari kerja keras Maldini menjaga kondisi tubuhnya
  4. Fokus, hidupnya didedikasikan untuk sepak bola, dan itulah yang menyebabkan ia mampu memberikan banyak gelar bagi AC Milan
  5. Tubuh harus dirawat, kalo ga salah, Maldini itu pernah menjadi seorang model, ga heran ia murah senyum, gagah, wangi, rapih, dsb dsb (ini nih, sesuatu yang jarang gw perhatiin, hehe)

Jadi, dengan penuh rasa hormat dan bangga atas semua yang telah kau lakukan dan berikan, kami mengucapkan Addio, il Capitano! (selamat jalan, kapten!)

PS: pantesan gw ngerasa dejavu, ternyata gw pernah nulis tulisan sejenis kaya gini tahun lalu (saat itu di http://www.ilmanakbar.com).. dan karena inilah gw memutuskan untuk meng-import semua tulisan lama di http://www.ilmanakbar.com ke sini.. tunggu ya..

Iklan

3 pemikiran pada “A Tribute to Paolo Maldini

  1. Bahkan kalo menurut gw, Milan adalah Maldini & Maldini adalah Milan. Noda yang ditinggalkan segelintir Milanisti (Palsu & Terkutuk) diakhir pertandingan takkan mencederai jejak emas yang Maldini tinggalkan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s