Paolo Maldini Sang Legenda Hidup: 1000 Lebih Loyalitas Bagi Bangsa dan Klubnya

(gambar dari sini)

2 hari lalu, seperti biasa, gw selalu membaca habis majalah Bobo (nomor 48 tahun XXXV) yang rutin dibeli oleh adik gw (kelas 1 SMP dan kelas 6 SD). Di sana, ada sebuah halaman tentang profil seorang legenda hidup klub sepak bola AC Milan. Selagi membacanya, gw tiba-tiba teringat dengan profil serupa yang gw baca di majalah Bobo sekitar tahun 1994, saat gw masih sangat kecil. Ya, dialah Paolo Maldini, il capitano AC Milan, sebuah sosok loyalis sejati, legenda hidup Italia dan AC Milan khususnya.

Paolo Maldini, putra dari Cesare Maldini, adalah seorang sosok yang amat dikagumi karena konsistensi, dedikasi, dan pengabdiannya yang total pada tim nasional dan klubnya. Sejak penampilan perdananya bersama tim senior AC Milan pada tanggal 20 Januari 1985 (usianya 16 tahun saat itu) hingga saat ini, sang penempat posisi full back atau left back ini belum sekalipun berpindah klub. Ya, dari awal karir sepak bola profesionalnya hingga pensiun, dia tidak pernah sekalipun berpindah tim.

7 kali juara Serie A Liga Italia, 5 kali juara Liga Champions Eropa, satu kali juara Piala Dunia Antar Klub, serta masih banyak lagi gelar juara baik domestik maupun level Eropa, telah diraihnya bersama AC Milan.

Di tim nasional Italia, walaupun Maldini belum pernah sekalipun merasakan gelar juara di kompetisi internasional, sosoknya tetaplah amat dihormati. Lebih dari separuh dari 16 tahun (1994-2002) karirnya di tim nasional dihabiskan sebagai kapten tim. Maldini, yang pensiun dari tim nasional setelah Piala Dunia 2002 memegang jumlah pertandingan internasional (caps) terbanyak di tim nasional Italia, yaitu sebesar 126 pertandingan. Maldini juga termasuk ke dalam FIFA 100, daftar 100 legenda sepak bola dunia pilihan Pele, legenda sepak bola Brazil. Bahkan ia telah melewati pertandingan profesionalnya yang ke-1000 bulan Februari lalu, dan hampir tidak ada pemain sepak bola profesional lainnya yang mampu menyamai rekornya.

Ada satu perkataan Maldini yang gw baca pada Majalah Bobo pada tahun 1994, dan kembali gw ingat saat membaca profil Maldini. Kalimat ini dia lontarkan usai Piala Dunia 1994 (saat itu Italia dikalahkan Brazil di babak final), saat dia menerima penghargaan sebagai Pemain Terbaik Dunia tahun 1994,

It’s a great honor for me to know that so many people consider me so highly. It’s a particular matter of pride because defenders generally receive so much less attention from fans and the media than goalscorers. We are more in the engine room rather than taking the glory. I must admit that, for me, 1994 was the peak of my career so far. For any player to win the Champions Cup or to play in the World Cup Final would be enormous single matter of pride — but I was fortunate enough to be able to experience both those pinnacles of the game within a matter of weeks. Of course, whatever success I may have achieved is not merely down to my own credit. There are other people and influences on my career it would be only fair to acknowledge. Everyone always asks me about my father, Cesare, who captained Milan to their first Champions Cup victory in 1963 and is now our national under-21 coach. But I don’t really remember him as a player. I played under his instructions in Milan youth teams when I was a boy but really I learned more from him about being a man, about a correct attitude to the game, than from a technical point of view. Then, there has been my captain and colleague Franco Baresi. In my opinion he has received far too little recognition for his influence within the club and within Italian and international football. He is the man of few words but ‘talks’ instead through his deeds out on the pitch. He really deserves to receive the sort of award I have received from World Soccer. But … thank you again!

Terlepas dari sepak bola, Maldini bukanlah tipe pemain yang gemar hura-hura, bermewah-mewahan, dan mencari masalah di luar lapangan. Memang dia juga pernah menjadi model, tapi bukankah tampaknya kita tidak pernah mendengar berita miring tentang Maldini?

Ya, kekaguman gw pada Maldini adalah salah satu yang menyebabkan gw adalah fans AC Milan, atau lazim disebut Milanisti. Sekedar cerita saja, waktu SD (sampai kelas 6), gw adalah fans berat Petr Schmeichel dan Manchester United, yang rela begadang pagi-pagi (bayangin anak SD bangun tengah malem, bikin indomie, dan nonton MU bertanding di Liga Champions! Adik gw sekarang ga pernah kaya gini..). Akan tetapi, ke-fans-an gw mendadak hilang karena gw tertidur dan tidak menonton final Liga Champions 1998-1999 antara MU dgn Bayern Munich, dimana laga tersebut adalah laga terakhir Petr Schmeichel di MU, karena musim depan ia pindah ke klub lainnya. Beberapa tahun tidak punya klub idaman, akhirnya tahun 2002-an gw pun menjadi fans setia AC Milan.

Ya, Paolo Maldini, salah satu pemain belakang terbaik Eropa, sosok loyalis, pemimpin di lapangan, sosok sederhana, ayah yang baik, sosok berdedikasi tinggi, adalah legenda AC Milan dan Italia, yang sampai kapanpun akan dikenang dengan torehan tinta emas.

Oh iya, ngomong-ngomong, ada yang penasaran kenapa Maldini begitu loyalnya dengan Milan nggak? Itu karena namanya Maldini sendiri menunjukkan hal itu:

M-A-L-D-I-N-I > D-I-M-I-L-A-N

Maldini -> di Milan

Dan satu lagi, kenapa gw sendiri ngefans banget dengan Milan? Itu karena nama gw sendiri menunjukkan bahwa gw adalah seorang fans Milan:

I-L-M-A-N > M-I-L-A-N

Ilman -> Milan

Keren kan? :mrgreen:

Iklan

8 pemikiran pada “Paolo Maldini Sang Legenda Hidup: 1000 Lebih Loyalitas Bagi Bangsa dan Klubnya

  1. Iya man, baru nyadar bisa dibalik-balik gitu, hehe…

    Kalo gw, C-H-A-R-L-E-S > A-R-S-E-N-A-L, ga nyambung yah? Kecuali nama gw jadi ANARLES, hehehe, maksa. Btw, tentang nama, apakah itu juga yang menyebabkan Arsene Wenger setia dengan Arsenal? ARSENE -> ARSENAL… :mrgreen:

    angkat topi juga deh buat maldini 😀 (padahal lagi ga pake topi :razz:)

    Suka

  2. #1 Charles
    iya, dulu waktu masih bocah pernah mikir gitu, Arsene Wenger itu memang ditakdirkan jadi pelatih arsenal selamanya karena namanya sama, hehe..

    btw, charles OL darimana nih? dari kost ya? pake apa sih?

    Suka

  3. Loyal sih loyal Man, tapi bisa dibilang beruntung…

    Berapa banyak pemain yang bisa “lahir” di klub sebesar Milan? Banyak
    Berapa banyak pemain yang bisa bertahan lama di suatu Klub? Banyak
    Tapi kalo dua-duanya disatukan, cuma sedikit nama kita dapat: Iker Casillas, Ryan Giggs, Paolo Maldini.

    Tapi kalo kita liat pemain yang “lahir dari klub yang *jauh* lebih kecil dari Milan, ada lebih banyak lagi. Meskipun mereka bisa aja bertahan lama *banget* tapi tentu nggak realistis buat mereka. Belum lagi kalo ngomongin gaji, keinginan “jalan-jalan” (:P), dsb. Dari klub besar aja belum tentu bisa bertahan.

    Makanya kalo beliau disebut loyal, ya wajar. Toh dia “lahir” dan besar di Milan, sebuah klub yang memang besar. Kalau seandainya beliau “lahir” di Pro Patria, dan kualitasnya tetap sebagus Maldini yang kita tau, apa iya beliau gak bakal pindah?

    Just my 2 pence… 🙂

    Suka

  4. #2 iLm@N

    Dari rumah man, pake fastnet, hehe… Enak loh pake fastnet (baca: unlimited), tapi emang jaringannya belum terlalu luas. Tapi kalo mau pasang coba request aja…

    ~kok jadi promosi fastnet ya? hehe

    Suka

  5. wah,, ternyata ilman juga baca profilnya maldini yg di bobo toh..
    gw juga kemarenan baca^^
    anak pertamanya juga katanya ada bakat jadi pemain bola..

    btw, jadi keinget jaman sd dulu juga seneng nonton bola tengah malem,, nungguin sambil makan indomie XD ehehehe..

    Suka

  6. #3 Arif Ade’
    Ya, mungkin ‘beruntung’ adalah aspek lainnya, tapi nggak juga bisa dijadikan sebuah landasan.. Karena yang saya amati sebagai pengamat (maksudnya penonton :mrgreen: ) sepakbola, buat pemain bola, tawaran pindah klub dengan iming-iming gaji lebih besar, kepopuleran, tawaran menjadi tim inti, itu jauh lebi konkret dan menggoda dibandingkan stay di tim tersebut dan membesarkannya..

    lihat saja david beckham, yang dari kecil sudah di MU, akhirnya pindah juga ke Madrid karena tawaran yang lebih tinggi. seharusnya masih ada yang lain, tapi ane nggak nemu contohnya..

    jadi, menurut ane, sejak awal ‘dilahirkan’ dari sebuah klub besar memang adalah keberuntungan, tapi tetap bertahan dalam sebuah tim, itu adalah sebuah usaha besar yang sangat patut dihargai..

    #5 _on
    iya, anaknya yang namanya christian sudah diarahkan menjadi pemain sepak bola, tapi tampaknya paolo nggak maksa anaknya mengikuti jejak ayahnya..

    wah, ternyata cerita masa kecil kita sama ya von.. hehe..

    #6
    ente maksa rom! haha.. :mrgreen:

    Suka

  7. waktu saya kecil bapak saya seorang pelatih sekaligus manajer sepak bola dikampung halaman saya. pada saat desa saya melawat dalam pertandingan persahabatan dengan kampung sebelah, diatas mobil yang penuh sesak oleh pemain dan penonton termasuk saya mendengar ucapan sang manejer mengatakan ” ada pemain italia berposisi bek yang sangat luar biasa dia adalah Maldini,mempunyai kecepatan dalam menyerang dan sangat kokoh dalam bertahan”. hal itu kemudian tersimpan dalam memori saya hingga saya dewasa. ternyata apa yang dikatakan bapak saya sangat benar,dan sekarang Maldini pun jadi idola bagi saya, angka 3 pun saya sangat keramatkan, karna 3 adalah Maldini karna dia adalah sejarah, dan aku pun adalah sejarah,,, I love you Il capitano Paolo Maldini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s