Jangan nulis panjang-panjang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kok gw baru sadar ya, kalo nulis panjang-panjang, orang yang baca tulisan kita juga jadi males.. Kalo gw baca postingan di blog atau di milis yang tulisannya panjang, gw bacanya menjadi skimming doang..

Mudah-mudahan besok gw nggak nulis panjang-panjang lagi deh.. Maklum, gw suka melebih-lebihkan sesuatu sih..

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Konkretlah

Jangan cuma jago berwacana,
jangan cuma jago dalam tataran pemikiran,
jangan cuma jago ngomong,
jangan cuma jago bikin rencana,
jangan cuma jago kritik,
jangan cuma jago mengkhayal,
jangan cuma jago membuat visi,
jangan cuma jago menasihati orang,

KONKRETlah!
BERTINDAKlah!
BERGERAKlah!
BERUSAHAlah!
BEKERJAlah!

Setiap orang dapat merasakan hasil atau manfaat dari diri kita setelah kita berbuat sesuatu, bukan hanya memikirkannya.

~sebuah autokritik

Mati Lampu!

Minggu, 4 Maret 2007, pukul 20.00

Bulan purnama, subhanallah.. 100% bulat.. Bercahaya penuh, tanpa ada sedikitpun awan yang menghalangi cahaya itu. Maha Besar Allah, Dzat yang berkuasa menciptakan benda-benda langit, dan Maha Suci Allah, Dzat yang menciptakan indra penglihatan manusia yang sangat sempurna ini.

Sepanjang perjalanan ke masjid untuk sholat Isya, tidak henti-hentinya saya memandangi bulan purnama sambil menggumamkan rasa kagum saya kepada Dzat yang telah menciptakan benda menakjubkan itu. Pulang dari masjid juga demikian.

Sesampainya di rumah, saya langsung kembali ke laptop (tukul mode: on). Tidak beberapa lama bekerja di laptop, tiba-tiba, PETT! Listrik langsung mati tiba-tiba, begitu pula laptop saya yang baterenya sedang dicabut. Saya punya kebiasaan mencabut batere dari laptop saat baterenya sudah penuh untuk memperpanjang usia batere.

Listrik di semua komplek saya padam! Begitu melihat ke luar rumah, yang terlihat hanyalah cahaya bulan yang sangat terang menyinari jalan raya yang gelap gulita. Ibu saya berkelakar bahwa PLN sedang iseng mematikan listrik supaya pelanggan-pelanggannya bisa menikmati cahaya bulan purnama ini.

Lalu, begitu mati lampu, apa yang dilakukan? Tentu menyalakan lilin kan? Begitu persediaan lilin dicari, ternyata tidak ada lilin yang tersisa selain beberapa batang lilin kecil yang panjangnya hanya maks.5 cm. Alhasil, saya pun menyalakan vespa saya, bergegas mencari warung yang buka, karena warung di dekat rumah saya persediaan lilinnya habis. Saya pun membeli lilin satu boks di tempat yang jaraknya 2 menit naik motor dari rumah.

Alhamdulillah, begitu saya selesai menulis ini, listrik sudah nyala lagi.

Kuliah, oh Kuliah!

Assalamu’alaikum wr.wb..
saya mencoba sedikit menganalisis tentang kondisi akademis di Fakultas saya semester 4 ini. saya mendapat dua hal baru dari Fakultas saya, satu hal menurut saya itu lebih baik, satu lagi lebih buruk.

Pertama, yang baiknya dulu saja ya..

Mungkin saya harus sedikit cerita tentang mata kuliah yang saya ambil semester ini ya? saya ngambil 22 SKS, itu berarti, saya harus lebih mengeluarkan effort saya dibandingkan semester2 sebelumnya, karena inilah jumlah SKS terbanyak yang pernah saya ambil.

Secara umum, mata kuliah yang saya ambil ini sebagian besar adalah mata kuliah menghafal dan pemahaman konsep. Selain itu juga tetap ada mata kuliah matematika dan sedikit programming. Alhamdulillah, kuliah-kuliah ini cukup seru juga semuanya.

Lalu, apa hal baik yang saya dapat? Tugas-tugasnya?

Iya, sejauh saya sedikit menganalisis beberapa tugas dari beberapa mata kuliah, ada sebuah perubahan ke arah yang lebih baik dari tugas-tugas itu. Jumlahnya lebih sedikit? Oh, tentu tidak! Bukan Fasilkom namanya, kalo tugasnya sedikit. Yang saya sebut baik adalah, bahwa tugas-tugas tersebut diberikan sebagai tugas kelompok.

Tiga semester belakangan, rata-rata tugas yang diberikan adalah tugas individu, sangat sedikit tugas kelompok yang diberikan. Sekarang sebagian besar tugas adalah tugas kelompok. Kemajuan besar bukan? Kemarin-kemarin, anak-anak Fasilkom sering dibilang individualis dan tidak bisa bekerja dalam tim, juga lulusan Fasilkom juga disebut-sebut tidak bisa bekerja dalam tim. Mudah-mudahan, dengan banyaknya tugas kelompok seperti ini, predikat buruk tersebut bisa hilang, dan mahasiswa Fasilkom bisa bekerja dalam tim secara baik.

Sekarang waktunya hal kedua, hal yang jauh lebih buruk. Hal inilah yang menurut saya menjadi penyebab utama anak-anak Fasilkom dibilang pasif, sedikit antusiasmenya terhadap kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, dan lain-lain. Hal ini adalah terlalu banyaknya waktu kuliah!

saya beri sedikit penjelasan tentang SKS. Jika tidak salah mengerti, 1 SKS itu artinya 50 menit tatap muka dengan dosen di kelas per minggunya. Berarti, jika seseorang mengambil 20 SKS dalam satu semester, ia akan kuliah 20 x 50 menit = 1000 menit per minggu, atau sekitar 16 jam per minggu.

Di Fasilkom, beberapa kuliah memiliki jadwal tutorialya masing-masing. Jadwal tutorial itu tentu berbeda dengan jadwal kuliah rutin. Waktu tutorial tersebut biasanya dimanfaatkan oleh dosen untuk melanjutkan kuliahnya yang belum selesai di jadwal kuliah rutin, menggantikan kuliah yang dosennya tidak hadir pada jadwal rutin, diisi dengan latihan soal untuk ujian, memberi kuis atau ujian, atau diisi oleh asisten dosen yang memberikan tambahan materi praktek (seringkali berguna untuk mata kuliah tentang programming).

Tutorial ini dulu-dulunya (maksudnya semester2 awal) hanya ada di beberapa mata kuliah tertentu yang emang penting buat anak baru. Istilahnya tutorial ini hanya optional. Jika dosennya punya asisten yang bisa ngisi tutorial, barulah ada tutorial untuk mata kuliah itu. Waktu tutorialnya pun bisa nego dengan mahasiswa.

Uniknya (atau kerennya?), di semester 4 ini, yang seharusnya mahasiswa angkatan saya udah harus lebih mandiri lagi, setiap mata kuliah itu memiliki jadwal tutorialnya sendiri-sendiri. Bisa dibilang, jadwal tutorial itu sudah tidak optional lagi, apalagi bisa nego dengan mahasiswa. Akhirnya, dosen pun menggunakan waktu tersebut untuk penggunaan seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Yang cukup unik, bahkan yang mengisi waktu tutorial itu bukanlah asisten dosen, melainkan dosen itu sendiri! Jika dosen sudah turun tangan, tentu mahasiswa tidak menganggap bahwa tutorial itu bukanlah suatu pilihan, karena di tangan dosenlah semua keputusan tentang kuliah, ujian, dsb. Bisa jadi kan, soal kuis atau ujian keluar dari materi yang disampaikan dosen saat tutorial?

Setiap hari (senin s.d. jum’at!), dari jam 15.00 s.d. 17.00 selalu ada jadwal tutorial dari tiap mata kuliah. Tidak semua dosen memanfaatkan waktu tutorial ini secara teratur. Ada yang hanya sesekali, tapi ada juga yang setiap minggu selalu menggunakan waktu tutorial tersebut.

Yang perlu diperhatikan, rata-rata mata kuliah di Fasilkom bobotnya 3 SKS, dan ada beberapa yang 4 SKS. Ditambah lagi dengan waktu slot tutorial yang 2 jam (kira2 2 SKS), berarti untuk setiap mata kuliah 3 SKS, mahasiswa sebenarnya merasakan bobot 5 SKS. Misalkan seorang mahasiswa mengambil 18 SKS (misalnya 6 x mata kuliah 3 SKS), sebanding waktunya dengan ia mengambil 30 SKS! Fiuh.. Mungkin perbandingan ini benar2 kasar, karena sekali lagi, tidak semua jadwal tutorial dimanfaatkan oleh dosen. Tapi sudah bisa dipastikan, jadwal tutorial ini mengambil kehidupan setiap mahasiswa. Waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain (regardless dimanfaatkan hanya untuk melakukan hal2 gak berguna) seperti berorganisasi, mengembangkan hobi, mengembangkan bisnis, beristirahat, dll, menjadi waktu untuk memikirkan hal-hal akademis saja.

Tentu saya sadar, bahwa dosen berniat baik. Saya sendiri juga bukanlah orang yang membenci kuliah (bodoh sekali jika saya seperti itu), atau membenci waktu tutorial itu, karena saya akui, saya mendapat banyak ilmu yang nantinya pasti akan bermanfaat. Yang menjadi poin penting saya adalah, tolong pak, bu, dan siapa saja yang menentukan kurikulum ini, tolong, objek dari kurikulum ini adalah manusia juga yang memiliki kehidupan lain, tidak hanya kehidupan akademis saja. Saya tidak heran, mahasiswa zaman sekarang makin lama makin jadi orang apatis, kehilangan antusiasme untuk hal-hal lain di sekitarnya, makin individualis, dan makin kapitalis. Apakah ini, tujuan pendidikan di Indonesia?

Bagaimana menurut Anda?