Vision (Visi) – Ambition (Cita-cita) – Dream (Impian)

Assalamu’alaikum..

Apa cita-citamu?
Sungguh, ini pertanyaan yang seharusnya tidak sulit dijawab, tetapi banyak orang tidak bisa menjawabnya secara langsung. Saya juga demikian. Beberapa waktu lalu, saya juga ditanya hal serupa, dan saya hampir tidak bisa menjawabnya. Sungguh, dengan lika-liku kehidupan sehari-hari yang saya jalani, saya lupa bahwa saya juga memiliki cita-cita.

Sewaktu SD, apa cita-citamu?
Saya tiba-tiba teringat masa-masa SD dulu. Saya pun langsung kepikiran, apa ya cita-cita saya sewaktu SD dulu? Mungkin jika ditanya pertanyaan demikian, banyak dari kita yang menjawab presiden, pilot, dokter, tentara, polisi, dan lain-lain. Saya sendiri lupa, apa cita-cita saya sewaktu SD dulu. Begitu bertanya kepada mama saya, beliau juga agak-agak lupa, sebelum akhirnya mengingatkan bahwa waktu SD, saya ingin jadi pemain bola. Saat itu saya suka sekali nonton bola (terutama pertandingan Manchester United, tim kesayangan saat itu). Bahkan, setelah saya khitanan, uang hasil khitanan saya berikan perangkat pemain bola, seperti sepatu bola, dekker (pelindung tulang kering), sarung tangan kiper, dan bola. Akan tetapi, dasar anak-anak, itu cuma ‘hasrat’ sesaat, saya sendiri tidak mau ikut SSB (Sekolah Sepak Bola).

Begitu SMP, rasanya saat itu saya tidak terlalu memikirkan masalah cita-cita, karena mungkin saat itu adalah masa-masanya pubertas, jadi saat itu saya sibuk mencari identitas diri.

Di SMA, ketertarikan saya dengan hal-hal yang berhubungan komputer dan dunia IT semakin menjadi-jadi. Awalnya saya ingin menjadi manajer IT. Beberapa lama kemudian, saya pikir-pikir lagi, lebih enak menjadi direktur IT, karena jabatannya lebih tinggi. Cita-cita direktur IT tetap melekat sampai sebelum lulus SMA. Saat memutuskan memilih IT sebagai bidang di universitas, saya memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang ilmuwan di bidang IT. Seorang profesor Universitas, memiliki banyak gelar dan memimpin banyak riset. Bahkan saya memiliki beberapa alasan mengapa saya harus menjadi seorang ilmuwan IT.

Menjalani kehidupan di lingkungan Fakultas Ilmu Komputer, lagi-lagi saya hampir terlupa akan cita-cita saya ini. Aktivitas saya di dunia akademik, IT, dan organisasi pergerakan kemahasiswaan membuat saya hampir tidak memiliki cita-cita lagi, dan ceritanya kembali ke awal tulisan ini.

Kembali memiliki cita-cita
Alhamdulillah, setelah sedikit kehilangan arah hidup, yang untungnya diingatkan kembali oleh pertanyaan itu, saya kembali memiliki cita-cita. Sebetulnya bukan ‘kembali memiliki cita-cita’, tetapi ‘menemukan kembali cita-cita’. Karena cita-cita saya tidak berubah, bahkan saya berhasil menemukan perluasan dari cita-cita saya itu.

Apa cita-cita saya?
Cita-cita saya sangat simpel:

Menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT

Sejak memutuskan menjadi ilmuwan IT pada akhir masa SMA, kalimat itu saya jadikan welcome note telepon selular saya. Saya berharap, tulisan ini dapat memotivasi saya menggapai cita-cita saya. Ternyata hal itu hampir menjadi kenyataan. Setiap saya mematikan telepon seluler, kemudian menyalakannya kembali, saya selalu membaca kalimat tersebut. Tanpa sadar, saya telah melakukan suatu proses yang bernama afirmasi.

Sekarang saya semakin menyadari, bahwa saya harus menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT. Saya harus bisa menghasilkan suatu ilmu, dan kemudian ilmu tersebut dimanfaatkan oleh banyak orang. Pahala dari ilmu tersebut mengalir meskipun saya wafat bukan? Itulah salah satu motivasi dari cita-cita saya tersebut.

Jika dulu saya berpikir bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT itu harus menjadi ilmuwan ‘beneran’ yang melakukan riset-riset ilmiah karena dapat menciptakan teknologi-teknologi baru, sekarang saya berhasil memperluas definisi ‘menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT’.

Apakah Larry Page dan Sergey Brin, pendiri dan penemu Google adalah ilmuwan? Jika yang namanya ilmuwan harus seorang profesor, maka Larry Page bukanlah ilmuwan, karena ia tidak pernah menyelesaikan Ph.D-nya. (Keterangan: Google adalah hasil riset Ph.D bersama dari Larry Page dan Sergey Brin. Lebih lanjut baca ini dan ini.

Contoh yang paling terkenal mungkin Bill Gates. Siapa yang tidak kenal Bill Gates? Bill Gates bahkan tidak pernah menyelesaikan kuliahnya di Harvard karena ia Dropped Out (DO). Ia bukan ilmuwan sama sekali, tapi kontribusinya dalam dunia IT sungguh sangat besar.

Mereka semua, juga bersama contoh-contoh lain yang masih banyak lagi, merupakan sosok-sosok yang memberi kontribusi sangat besar dalam dunia IT.

Saya berharap, menjadi apapun saya, apakah menjadi Ilmuwan IT, menjadi Larry Page, Sergey Brin, atau Bill Gates berikutnya, ataukah lewat jalan lain, saya harus dapat meraih cita-cita saya tersebut, menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT.

Wassalamu’alaikum..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s