Assalamu’alaikum..

Assalamu’alaikum..

Alhamdulillah, hari ini gw banyak banget tersenyum dan nyengir2 sendiri.. Maklum, lagi seneng.. Hehehe..

Oh iya, pada tahu nama lengkap gw nggak? Muhammad Ilman Akbar? Iya, betul, tapi masih kurang tuh.. Gw punya nama tengah lho..: “Deadliner”. Nama lengkap gw jadinya Muhammad Ilman Deadliner Akbar..

Lagi-lagi gw selese tugas di akhir-akhir banget.. Ya Allah, ada apa dengan hamba-Mu ini?

Mau ganti nama tengah ah.. Minta saran dong, biar nama tengahnya jadi “Beforetimer”.. Harus bikin syukuran dulu kali ya?

Assalamu’alaikum..

~NB: dalam rangka memperingati selesainya tugas mendekati waktu deadline untuk yang kesekian kalinya..

The First National Computer Camp for The Blind

Assalamu’alaikum wr.wb..

Selama tiga hari, dari Rabu (22 November 2006) sampai Jum’at (24 November 2006), saya tidak kuliah karena mendaftarkan diri menjadi volunteer atau relawan pendamping para tuna netra dalam acara The First National Computer Camp for The Blind. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Mitra Netra, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pengembangan potensi para tuna netra. Acara ini adalah acara ekshibisi atau unjuk kebolehan dari 100 tuna netra dalam berkomputer. Mereka berlomba mengetik di Microsoft Word, menghitung laba rugi di Microsoft Excel, membaca dan mencari kata di kamus, browsing di internet, bahkan bermain catur. Kegiatan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa para tuna netra memiliki potensi yang sama persis dengan manusia normal lainnya..

Hal yang saya ingin sampaikan di postingan ini, adalah bahwa saya mendapat banyak sekali hikmah dalam kegiatan ini. Aku sama sekali tidak rugi, meski tidak mendapat pelajaran ilmu komputer selama 3 hari berturut-turut, karena saya mendapat banyak pelajaran hidup dari kegiatan ini.

Inilah pertama kali saya berinteraksi sedemikian dekat dan intens dengan teman-teman tuna netra. Sebelum ini, saya tidak pernah sama sekali berbicara dengan tuna netra. Bayangan di kepala bahwa tuna netra itu biasanya begini dan begitu (mengerti kan maksudnya?), hilang sama sekali begitu saya berinteraksi dengan teman-teman tuna netra. Setelah mengenal teman-teman tuna netra lebih dekat, saya membuktikan bahwa pemikiran itu salah. Tidak ada bedanya antara orang-orang ‘awas’ (orang yang berpenglihatan sempurna) dengan teman-teman tuna netra selain penglihatannya saja. Kesan pertama saya setelah berinteraksi dengan teman-teman tuna netra adalah: ‘Subhanallah banget!’. Allah memiliki banyak hikmah yang bisa diambil dari teman-teman tuna netra.

Beberapa teman tuna netra memiliki bakat-bakat yang juga dimiliki oleh orang. Teman-teman tuna netra juga ternyata melakukan aktivitas yang sama persis dilakukan oleh orang-orang awas. Ada yang sekolah dan kuliah (di sekolah dan kampus normal), bekerja, bahkan menjadi aktivis organisasi. Pernahkah kita membayangkan orang-orang tuna netra bermain musik? Ternyata mereka bisa. Alat musik drum, gitar, bass, dan keyboard mereka mainkan dengan sempurna.

Ada pula beberapa teman tuna netra yang ‘subhanallah banget’. Ada Ada Aris Yohanes yang memiliki website sendiri yang menampung karya seni para tuna netra (alamatnya di sini). Ada Ari si ‘bocah ajaib’, dia adalah peserta termuda dalam acara ini, dan dia adalah peserta yang paling banyak diwawancarai wartawan. Ada juga namanya mas Dimas. Ketiga orang ini bisa dibilang adalah teman-teman tunanetra yang paling ‘brilian’. Tiap ada wartawan, selalu mereka yang diwawancarai dan disorot kamera. Ada mas Taufiq yang pernah ke Jepang, dan dia saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang di BEM Fakultas Sastra UNJ.

Di kelompok yang aku dampingi, selain ada Ari, ada juga Daeng Sony, Pak Asmad, dan Pak Robert Hutabarat, ketiganya teman sekamar saya di hotel, orangnya ramah, cerdas, dan kocak. Ada mas Anung dari Yogya, orangnya ramah, dan dia jago pula bermain musik. Ada juga mas Danang dari Klaten, ada mas Ridwan yang low-vision, wajahnya terlihat muda tapi umurnya beda 6 tahun dengan saya, ada Lia yang suaranya bagus banget, ada mbak Asti dari Klaten, ada juga mas Tarup yang pendiam, tapi pede.

Dari kelompok lainnya, saya mengenal beberapa orang, seperti mas Juanda, pak Ferry (kalo nggak salah inget nama) yang alumni Informatika ITB, Arief yang masih low-vision dan bisa mengayomi teman-teman tuna netra lain, mas Boyke yang jago catur (bahkan GM Susanto, menunjuk beliau sebagai peserta dengan langkah catur terbaik), mas dari Makassar (kalo nggak salah namanya Arifin) yang bisa meniru suara Donal Bebek, dan masih ada beberapa lain yang kalau dituliskan tentu postingan ini akan jauh lebih panjang.

Dan masih banyak lagi teman-teman yang lain. Mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda, memiliki bakat yang berbeda-beda, juga memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda pula. Akan tetapi, ada satu kesamaan dari mereka semua. Kesamaan itu terletak pada semangat mereka untuk menjalani hidup mereka, walaupun mereka punya kekurangan penglihatan. Mereka juga tidak ingin menjadi beban bagi orang lain, mereka tidak ingin bergantung pada orang lain. Dengan segala keterbatasan mereka, mereka bisa menjalani hidup mereka dengan baik, meraih cita-cita mereka.

Hikmah utama yang seharusnya bisa kita ambil adalah kita bisa merasakan nikmatnya penglihatan. Itulah karunia dan nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allah SWT. Jika kita berkaca pada teman-teman tuna netra, kita bisa mengambil kesimpulan ini: dengan penglihatan yang hilang saja mereka bisa melakukan aktivitas seperti orang normal, bagaimana jika penglihatan mereka masih ada? Tentu saja mereka pasti bisa melebihi kita bukan? Nikmat penglihatan ini seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin dengan jalan mensyukurinya, bukan malah dipergunakan untuk melihat hal-hal yang haram.

Ya Allah, jadikanlah saya orang yang dapat menyadari dan mensyukuri nikmat-nikmat yang Engkau berikan kepadaku. Jangan Engkau jadikan saya orang yang tidak bisa mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan, dan baru menyadari pentingnya nikmat tersebut setelah nikmat itu dicabut dariku. Sekali-kali jangan, Ya Allah.. Jangan Engkau cabut nikmat yang telah Engkau berikan kepadsaya.. Berikan hidayah kepada kami agar kami menjadi orang dapat mensyukuri nikmat-Mu, bukan orang yang kufur atas nikmat-Mu.

Wassalamu’alaikum wr.wb..

Note:
Berikut ini beberapa foto yang saya ambil di acara tersebut. Foto-foto acara puncaknya (100 tuna netra mengoperasikan komputer bersamaan) tidak saya ambil.


Believe or not? Tuna netra bisa main band? Mainnya keren pula!
Percaya atau tidak? Mereka (yang di panggung ini) belum pernah latihan bareng sebelumnya, tapi permainan mereka T.O.P. B.G.T!! Serius


Aris Yohanes, salah satu dari 3 orang pendiri www.kartunet.com sedang mempresentasikan cara kerja program JAWS (Job Application With Speech), sebuah program screen reader kepada Bapak Menteri Sosial.


Fakhri Muhammad alias Ari, peserta termuda alam acara ini, tampak sedang diwawancarai wartawan.


Saya dan Sawie berfoto bareng Muhammad Taufiq, tuna netra asal Jakarta, sekarang kuliah di Fakultas Sastra UNJ dan sedang menyusun skripsi. Beliau adalah Ketua Bidang Pendidikan dan Keilmuan BEM Fakultas Sastra.


Saya dan kelompok yang saya dampingi.
Berdiri (ki-ka): Mbak Nurbaya (relawan pendamping dari Mitra Netra), Mbak-aduh, lupa namanya- (pendamping mbak Asti), mbak Asti, Lia, mas Tarup, Pak Robert, Ari, mas Anung, Pak Asmad, mas Danang, Daeng Sony.
Jongkok (ki-ka): Ibu Nuning (MC), mas-aduh, lupa juga namanya (MC juga), saya, mas Fikri (relawan pendamping dari Mitra Netra), mas Ridwan.

Vision (Visi) – Ambition (Cita-cita) – Dream (Impian)

Assalamu’alaikum..

Apa cita-citamu?
Sungguh, ini pertanyaan yang seharusnya tidak sulit dijawab, tetapi banyak orang tidak bisa menjawabnya secara langsung. Saya juga demikian. Beberapa waktu lalu, saya juga ditanya hal serupa, dan saya hampir tidak bisa menjawabnya. Sungguh, dengan lika-liku kehidupan sehari-hari yang saya jalani, saya lupa bahwa saya juga memiliki cita-cita.

Sewaktu SD, apa cita-citamu?
Saya tiba-tiba teringat masa-masa SD dulu. Saya pun langsung kepikiran, apa ya cita-cita saya sewaktu SD dulu? Mungkin jika ditanya pertanyaan demikian, banyak dari kita yang menjawab presiden, pilot, dokter, tentara, polisi, dan lain-lain. Saya sendiri lupa, apa cita-cita saya sewaktu SD dulu. Begitu bertanya kepada mama saya, beliau juga agak-agak lupa, sebelum akhirnya mengingatkan bahwa waktu SD, saya ingin jadi pemain bola. Saat itu saya suka sekali nonton bola (terutama pertandingan Manchester United, tim kesayangan saat itu). Bahkan, setelah saya khitanan, uang hasil khitanan saya berikan perangkat pemain bola, seperti sepatu bola, dekker (pelindung tulang kering), sarung tangan kiper, dan bola. Akan tetapi, dasar anak-anak, itu cuma ‘hasrat’ sesaat, saya sendiri tidak mau ikut SSB (Sekolah Sepak Bola).

Begitu SMP, rasanya saat itu saya tidak terlalu memikirkan masalah cita-cita, karena mungkin saat itu adalah masa-masanya pubertas, jadi saat itu saya sibuk mencari identitas diri.

Di SMA, ketertarikan saya dengan hal-hal yang berhubungan komputer dan dunia IT semakin menjadi-jadi. Awalnya saya ingin menjadi manajer IT. Beberapa lama kemudian, saya pikir-pikir lagi, lebih enak menjadi direktur IT, karena jabatannya lebih tinggi. Cita-cita direktur IT tetap melekat sampai sebelum lulus SMA. Saat memutuskan memilih IT sebagai bidang di universitas, saya memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang ilmuwan di bidang IT. Seorang profesor Universitas, memiliki banyak gelar dan memimpin banyak riset. Bahkan saya memiliki beberapa alasan mengapa saya harus menjadi seorang ilmuwan IT.

Menjalani kehidupan di lingkungan Fakultas Ilmu Komputer, lagi-lagi saya hampir terlupa akan cita-cita saya ini. Aktivitas saya di dunia akademik, IT, dan organisasi pergerakan kemahasiswaan membuat saya hampir tidak memiliki cita-cita lagi, dan ceritanya kembali ke awal tulisan ini.

Kembali memiliki cita-cita
Alhamdulillah, setelah sedikit kehilangan arah hidup, yang untungnya diingatkan kembali oleh pertanyaan itu, saya kembali memiliki cita-cita. Sebetulnya bukan ‘kembali memiliki cita-cita’, tetapi ‘menemukan kembali cita-cita’. Karena cita-cita saya tidak berubah, bahkan saya berhasil menemukan perluasan dari cita-cita saya itu.

Apa cita-cita saya?
Cita-cita saya sangat simpel:

Menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT

Sejak memutuskan menjadi ilmuwan IT pada akhir masa SMA, kalimat itu saya jadikan welcome note telepon selular saya. Saya berharap, tulisan ini dapat memotivasi saya menggapai cita-cita saya. Ternyata hal itu hampir menjadi kenyataan. Setiap saya mematikan telepon seluler, kemudian menyalakannya kembali, saya selalu membaca kalimat tersebut. Tanpa sadar, saya telah melakukan suatu proses yang bernama afirmasi.

Sekarang saya semakin menyadari, bahwa saya harus menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT. Saya harus bisa menghasilkan suatu ilmu, dan kemudian ilmu tersebut dimanfaatkan oleh banyak orang. Pahala dari ilmu tersebut mengalir meskipun saya wafat bukan? Itulah salah satu motivasi dari cita-cita saya tersebut.

Jika dulu saya berpikir bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT itu harus menjadi ilmuwan ‘beneran’ yang melakukan riset-riset ilmiah karena dapat menciptakan teknologi-teknologi baru, sekarang saya berhasil memperluas definisi ‘menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT’.

Apakah Larry Page dan Sergey Brin, pendiri dan penemu Google adalah ilmuwan? Jika yang namanya ilmuwan harus seorang profesor, maka Larry Page bukanlah ilmuwan, karena ia tidak pernah menyelesaikan Ph.D-nya. (Keterangan: Google adalah hasil riset Ph.D bersama dari Larry Page dan Sergey Brin. Lebih lanjut baca ini dan ini.

Contoh yang paling terkenal mungkin Bill Gates. Siapa yang tidak kenal Bill Gates? Bill Gates bahkan tidak pernah menyelesaikan kuliahnya di Harvard karena ia Dropped Out (DO). Ia bukan ilmuwan sama sekali, tapi kontribusinya dalam dunia IT sungguh sangat besar.

Mereka semua, juga bersama contoh-contoh lain yang masih banyak lagi, merupakan sosok-sosok yang memberi kontribusi sangat besar dalam dunia IT.

Saya berharap, menjadi apapun saya, apakah menjadi Ilmuwan IT, menjadi Larry Page, Sergey Brin, atau Bill Gates berikutnya, ataukah lewat jalan lain, saya harus dapat meraih cita-cita saya tersebut, menghasilkan sesuatu yang berguna untuk IT.

Wassalamu’alaikum..

more than 1000 pageviews!

Assalamu’alaikum..


Alhamdulillah, sejak ‘kiprah’ perdana gw di dunia Blogger dan deviantArt (dA) kira-kira sejak Mei 2006, ternyata sudah lebih dari 1000 kali halaman blog (http://ilman05.blogspot.com/) dan deviantArt gw (http://ilman05.friendster.com/) dilihat oleh orang lain..

Sebenernya udah dari beberapa minggu yang lalu sih, hit-counter dari blog ini menunjukkan angka 1000.. Tapi karena hari ini gw baru melihat di halaman deviantArt gw ternyata sudah 1.006 pageviews, sekalian aja dua hal ini gw tulis sekalian.. Yang gw paling perhatiin tingkat pertumbuhan pageviewsnya adalah halaman dA gw sih.. Makanya begitu ngeliat hari ini pageviews dA gw udah 1000 lebih, gw alhamdulillah seneng banget, dan gw tulislah di sini..

Alhamdulillah..
ucapan terimakasih buat para blogger
Terimakasih buat semua yang udah baca, ngeliat, dan mampir di blog (juga dA gw), buat yang udah comment, ngasih kritik, saran, dan semuanya.. Terimakasih juga buat teman-teman gw (seperti yang namanya udah gw link di sebelah kanan halaman blog ini), juga buat semua temen2 yang belum sempet gw link, juga sangat spesial buat teman-teman yang udah nge-link blog gw ini..

ucapan terimakasih buat para deviant, seperti yang gw tulis di journal dA gw (http://ilman05.deviantart.com/journal/10751155/)
Assalamu’alaikum..
Thank God for my 1,006 pageviews.. (by the time this journal is submitted)

Since my ‘debute’ in deviantArt on May 18, 2006 till now, so many people view my deviantArt page.. Thank you very much for your attention, comments, critics, and advises to my deviation.. Thank you very much my friends..

This is just a start for the neverending creativity..

Buat semuanya, sekali lagi terimakasih.. Semoga ini bisa jadi pemacu semangat agar lebih kreatif dan lebih baik dalam berkarya (terutama disain grafis dan tulis-menulis)

Assalamu’alaikum..

Aku

Assalamu’alaikum..
Aku tidak bosan dengan kehidupanku. Aku selalu menemukan hal-hal baru dalam kehidupanku. Hidupku tidak berputar-putar di situ-situ saja. Alhamdulillah hal-hal baru selalu muncul dalam kehidupanku. Bila tidak ada hal-hal baru yang muncul, aku sendirilah yang menciptakan hal baru tersebut. Aku bisa katakan, setiap hari selalu ada yang spesial di hari itu. Alhamdulillah, aku tidak pernah bosan menjalani kehidupanku, karena hidupku memang tidaklah membosankan.

Aku sejujurnya tidak terlalu suka dengan rutinitas, karena menurutku rutinitas itu membosankan. Rutinitas hidupku bukan rumah-ruang kelas-rumah lagi, atau rumah-ruang kelas-perpustakaan-lab komputer-rumah lagi. Rutinitas hidupku tidak bisa ditebak, bisa saja suatu hari rutinitasku berputar di rumah-ruang kelas-rumah lagi, tapi di lain hari bisa saja menjadi rumah-ruang kelas-ruang rapat-fakultas lain-rumah lagi. Aku suka dengan kehidupanku seperti ini. Tidak berada dalam rutinitas berarti ada hal baru setiap saat. Hal baru setiap saat berarti ada kreativitas dan pengalaman baru.

Kalau tidak suka hal-hal yang rutin, apakah aku tidak suka keteraturan? Tentu saja aku suka keteraturan. Tanpa keteraturan, tentu dunia ini akan kiamat. Begitu pula kehidupan, kehidupan tanpa keteraturan artinya menyia-nyiakan hidup ini. Aku selalu mencoba membuat dan mengatur jadwal, menghindari orang-orang di sekelilingku terdzholimi karena aku tidak memiliki waktu untuk mereka. Aku hanya tidak suka melakukan hal-hal yang sama yang dilakukan dengan cara yang sama pula setiap hari, setiap waktu.

Aku tidak punya rencana masa depan? Ah masa? Walaupun hidupku tidak memiliki rutinitas, aku punya jadwal, aku punya rencana masa depan, aku punya impian nanti mau jadi apa, mau menikah dengan siapa, eh, maksudnya menikah kapan, dan aku punya sederet visi dan impian lainnya.

Aku berani mencoba hal-hal baru, dan aku hampir selalu membuktikan itu. Banyak hal telah kuberanikan diri untuk mencobanya, sehingga aku menggemari banyak hal. Aku memiliki motto “jangan sia-siakan rizki dan kesempatan yang ada”, sehingga setiap ada kesempatan mencoba hal baru, aku berusaha untuk mencobanya dan merasakan pengalaman baru yang berbeda.

Apakah hal itu baik? Iya, jika hal-hal baru tersebut tidak mengganggu hal-hal lama yang menjadi amanahku, atau hal-hal lama yang sudah kulakukan dengan teratur setiap hari. Jika hal-hal baru tersebut ternyata mengganggu, aku akan sedih luar biasa. Sedih karena aku berarti tidak bisa mengatur waktu dan prioritas dengan baik, sedih karena aku ternyata kurang bisa berpikir panjang, dan sedih karena berarti aku mendzhalimi/merugikan orang-orang di sekitarku.

Assalamu’alaikum..

Met Idul Fitri

Assalamu’alaikum..
Wah, udah lama nggak nge-blog nih.. Meskipun agak2 telat, tapi karena ini masih bulan Syawal, dan suasananya masih suasana lebaran, dan karena mungkin masih ada yang belom memaafkan gw, saya mohon maaf lahir batin ya.. Met Idul Fitri 1427 H, Taqobalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, semoga Allah menerima ibadah-ibadah kita, juga puasa kita..