Kedewasaan ~Sebuah Renungan di Hari Lahir~

Assalamu’alaikum wr.wb
Lebih dari setahun lalu, semasa di SMA kelas 3, aku sering sekali berdebat dengan sahabatku perempuanku.

“Kedewasaan ditentukan oleh umur!”, katanya. Ia berpendapat demikian, mungkin karena ia memang lebih tua (padahal hanya 2 bulan lebih tua), dan menurutku, terkadang dia memang lebih dewasa dalam bersikap dan memandang sesuatu.

Aku tidak sepakat, “Tidak, kedewasaan itu sama sekali tidak ditentukan oleh umur!”. Aku berpendapat demikian, karena aku telah mengikuti berbagai organisasi di SMA, dan aku menemukan bahwa orang yang tidak mengikuti organisasi, seringkali lebih bertindak tidak dewasa, dibandingkan orang yang berorganisasi.

Sampai kami lulus SMA pun, pertanyaan tersebut masih tidak terjawab, dan tidak diketahui siapa yang benar, siapa yang salah. Pendapat dari masing-masing kami terkadang ada benarnya, kadang-kadang ada salahnya.

Ketika SMA juga, aku seringkali mengira bahwa aku sudah dewasa. Aku membuat teori-teoriku kedewasaanku sendiri, dan tentu saja aku sudah masuk kategori dewasa menurut teoriku itu. Akan tetapi, pendapatku ternyata salah, karena teman-temanku mengatakan langsung kepadaku saat perpisahan kelas 3 SMA, bahwa aku seringkali tidak dewasa, karena tidak bisa menempatkan diri pada tempat yang seharusnya.

Aku mulai mengerti sedikit demi sedikit, bahwa kedewasaan itu tidak sesederhana yang dibayangkan, karena kedewasaan itu mencakup banyak aspek. Apakah dalam usiaku yang sekarang aku sudah dewasa? Tentang itu aku juga belum bisa memastikannya.

Menurut pengamatan dan pemikiranku, kedewasaan itu dipengaruhi beberapa hal:

Pertama, dengan siapa kita bergaul dan berinteraksi. Dalam agama Islam, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seseorang itu bersama agama temannya. Maka hendaklah seseorang memperhatikan dengan siapa dia berteman” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Contoh paling sederhana adalah apabila kita sering berinteraksi dan berteman dengan preman terminal, maka kita lama kelamaan akan menjadi preman terminal pula. Apabila teman-teman kita adalah orang yang baik agamanya, maka agama kita yang berteman dengannya pun akan menjadi baik pula.

Kedewasaan juga begitu. Bila kita berteman dengan orang-orang yang dewasa dalam berpikir, bertindak, berbicara, dan hal lainnya, kita juga akan meniru sikap dewasa tersebut.

Kedua, apa aktivitas yang sering dilakukan. Apabila seseorang hanya menghabiskan waktu untuk aktivitas yang tidak berguna, seperti bermain, tidur-tiduran, nonton teve, dan sebagainya, maka ia bisa disebut orang yang tidak dewasa. Ia tidak dewasa karena ia tidak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Ia tidak sadar, bahwa hidup di dunia hanya sekali, dan hidup di dunia ini hanya untuk mempersiapkan kehidupan kita yang abadi di akhirat kelak.

Seseorang yang menghabiskan waktunya dengan banyak beraktivitas, memiliki rasa tanggung jawab dan kedisiplinan yang lebih besar. Itulah mengapa seperti kusebutkan di paragraf awal, bahwa orang-orang yang tidak berorganisasi seringkali tidak bertindak dewasa.

Ketiga, pemahaman seseorang terhadap agamanya. Seseorang yang tidak memahami agamanya sendiri secara menyeluruh cenderung merasa kebingungan dalam menjalani hidupnya, karena ia mencari-cari sendiri tujuan hidupnya. Padahal tujuan hidupnya sudah digariskan sangat jelas di agama mereka. Sebagai contoh, dalam Islam, tujuan dan tugas hidup manusia dijelaskan dalam Adz-Dzariyat (51): 56, yang berbunyi, “Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

Seseorang yang dewasa sudah mengerti arti dan tujuan hidupnya di dunia. Ia tidak tidakmenghabiskan waktu untuk mencari arti kehidupannya, sehingga bisa menghabiskan waktunya untuk melakukan amal-amal yang berguna.

Keempat atau terakhir, umur juga berpengaruh besar terhadap kedewasaan. Pengaruh umur adalah dalam pengalaman hidup. Seseorang dengan umur yang lebih pasti memiliki pengalaman hidup yang lebih pula.

Adalah penting bagi diri kita untuk selalu introspeksi diri, kapanpun itu, karena sesungguhnya kita sedang menghitung mundur ke arah lonceng kematian yang kapan berbunyinya hanya Allah yang tahu. Kita harus bisa dewasa, karena kita harus bermanfaat bagi setiap orang yang ada di sekitar kita. Tidak ada yang bisa mengubah diri kita menjadi lebih dewasa, selain diri kita sendiri.

Wassalamu’alaikum wr.wb
Muhammad Ilman Akbar, 29 Juli 1988 – …

Satu pemikiran pada “Kedewasaan ~Sebuah Renungan di Hari Lahir~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s