Tukang Ojek dan Setengah Gelas Starbucks

My chai!

Kemarin pagi, saya hampir terlibat perkelahian, saat tukang ojek langganan beradu mulut dengan supir mobil boks.

Baca lebih lanjut

Saya Diwawancara tentang “Start Small” di Video Ini

Saya diwawancarai oleh Derry di video series YouTube nya yang namanya Odyssey (Obrolan dengan Derry Seputar Inspirasi).

Saya cerita tentang start small, gimana ceritanya dari ngeblog saya bisa nulis buku.

Dan di video ini, saya buat giveaway untuk membagikan buku terbaru saya yang judulnya #Unstoppable Berani Gagal, Berani Bangkit, Berani Sukses, GRATIS!

Caranya gimana untuk dapat buku #Unstoppable gratis?

Tinggal share aja link video di atas di Facebook kamu, kasih hashtag #Unstoppable dan #DerryOdyssey. Nah yang like, comment, dan reshare nya paling banyak, itu yang menang.

Ditunggu sampai hari Minggu ini 23 Oktober 2016 ya!

Tukang Ojek

5035393713_3bb9bf0c23_b
Tukang ojek pangkalan (ilustrasi) (foto CC/Mike Vidal) 

Saya punya ojek pangkalan langganan di seberang kantor. Saya biasa naik mereka untuk menuju Stasiun Tanah Abang, dengan ongkos Rp. 15.000. Di tengah serbuan ojek online, mereka masih setia jadi ojek pangkalan. Kita saling mengenal, saya hampir kenal nama mereka semua karena memang cuma ada 5 orang.

Sesorean di suatu hari di September, hujan turun sangat deras di sekitar kantor. Dari lantai 21 tempat saya bekerja, saya tidak bisa melihat apapun saking derasnya. Beruntung, saat maghrib hujannya berhenti, sehingga saya bisa pulang.

Seperti biasa, ojek langganan sudah menanti. Saya naik salah satu dari mereka, biasanya dipanggil Arul atau Nasrul. Dia termasuk yang paling seiring saya tumpangi, dan sambil 5 menit perjalanan itu kita memang biasa ngobrol tentang anak dan keluarga. Saya tahu anaknya masih 2 tahun, rumahnya di belakang pangkalan ojek, mertuanya tinggal di Kampung Melayu, dan dia punya sakit maag akut.

Sore itu, dia cerita, “bro, dari jam 4 tadi kita keluar, gw baru pecah telor nih sama lo. Karena hujan tadi jadi kita ga bisa narik. Baru Pak Udin, gw, dan Wai yang udah pecah telor. Si A & B (tiba2 saya lupa namanya) belum sama sekali.”

Deg. Gusti, karena hujan tadi, mereka jadi ga bisa narik dan dapet penghasilan. Di sisi lain, gw bisa kerja dengan nyaman meski hujan atau panas sekalipun. Bahkan kalau saya tidak bekerja karena cuti atau sakit, saya masih bisa dapet gaji.

Saat turun, saya kasih dia selembar 20 ribu, sambil bilang, “bro, makasih yak. Ini kembaliannya ambil aja, mudah-mudahan dapet yang lebih banyak nanti.”

Saya ingat tatapan matanya menunjukkan kekagetan yang sangat, tapi sekaligus bahagia. Tatapan yang ga bisa saya lupakan, yang membuat saya merasakan dalam hati, “semoga Allah menguatkan punggung kita berdua ya bro, karena kita sama-sama berjuang nyari nafkah halal buat anak istri kita.”

Sebuah tatapan yang membuat saya amaaat bersyukur.

Jika kamu saat ini punya kemampuan atau pengetahuan yang bisa menghasilkan uang tanpa harus terhambat cuaca, bersyukurlah. Karena di luar sana ada mereka yang tidak bisa menghidupi anak dan istrinya saat hujan deras menerjang.

Bersyukurlah atas apapun yang kita miliki saat ini, karena di luar sana ada orang yang ingin merasakan seperti apa rasanya seberuntung di posisi teman-teman.

Photo Credit: Mikel Vidal via Compfight cc

Mengapa Mark Zuckerberg & Steve Jobs Pakai Baju yang Itu-itu Saja? Dan Mengapa Lampu Teras Rumah Saya Bisa Nyala/Mati Secara Otomatis?

2016-09-21-09-18-59

Mark Zuckerberg, si empunya Facebook itu, pusing memakai baju apa di hari pertamanya bekerja setelah tiga bulan cuti kelahiran anaknya.

Mendiang Steve Jobs, pendiri Apple, di banyak kesempatan presentasi di depan publik, terlihat hanya memakai baju yang itu-itu saja: kaos turtleneck lengan panjang, blue jeans, dan sepatu kets.

steve-turtleneck

Sekilas, mereka terlihat sangat membosankan bukan, menggunakan baju yang sama setiap hari?

Tapi apakah teman-teman tahu, bahwa keputusan kecil mereka menjadi “membosankan” itu adalah cara mereka menyimpan tenaga otak mereka untuk mengambil keputusan lebih besar bagi bisnis mereka?

Setiap pagi, salah satu keputusan yang biasanya kita ambil adalah, “saya harus pakai baju apa buat ke kantor/kampus hari ini ya?”, iya kan?

Waktu 5-10 menit untuk memikirkan jawaban di atas (belum dandannya) yang dihabiskan setiap hari, memakan tenaga otak kita. Padahal ini bukan keputusan yang benar-benar signifikan dalam hidup kita.

Bayangkan kalau kita bisa mengurangi tenaga otak kita untuk menjadikan hal-hal kecil diputuskan secara “tanpa berpikir”, kita bisa mengambil keputusan besar nan signifikan dalam hidup kita.

Dan jalan itulah yang diambil Mark Zuckerberg & Steve Jobs, juga banyak orang sukses lainnya. Habis mandi pagi, buka lemari baju, langsung ambil baju apapun di lemari (karena cuma ada itu wkwkwk), berhasil menghemat tenaga otak mereka untuk mengambil keputusan yang besar dan bermanfaat bagi banyak orang.

Facebook, dengan miliaran pengguna di seluruh dunia, membeli WhatsApp & Instagram. Kini dengan inisiatif Internet.org nya Facebook mencoba memberi akses Internet ke negara-negara tertinggal. Apple, terkenal dengan inovasi produk iPhone & Mac nya, mengubah dunia karena kemudahan penggunaan produknya.

Hal itulah juga yang coba keluarga kami terapkan di rumah.

Istri saya memutuskan untuk memanggil bantuan asisten rumah tangga pulang-pergi untuk mengurus cucian baju, cucian piring, dan lantai rumah.

Hasilnya, ia tidak dipusingkan dengan pekerjaan domestik sehari-hari. Istri saya pun bisa kreatif membuat banyak mainan untuk anak kami, juga membuat aneka masakan bagi anak bayi kami.

Karena baju saya sudah rapih disetrika oleh ART, setiap pagi sesudah mandi saya pun tidak pusing lagi cari-cari baju mana yang sudah rapih dipakai ke kantor. Saya tinggal ambil kemeja apapun di gantungan, menghemat waktu persiapan berangkat kerja si pagi hari.

Hal kecil lainnya di keluarga kami adalah kami sudah tidak pernah lagi menyala matikan lampu teras rumah setiap pagi dan sore. Karena pekerjaan kecil dan membosankan ini sudah dikerjakan oleh sensor lampu otomatis.

Dengan harga hanya 100 ribu rupiah untuk 3 buah lampu, kami setiap hari tidak perlu memikirkan lagi apakah lampu sudah dinyalakan atau dimatikan. Kami bisa fokus main sekeluarga, hal yang lebih besar dibandingkan sekedar mengurus lampu.

Jadi, hal-hal kecil apa yang pengambilan keputusannya sudah kamu kurangi? Lalu apa hasil besar yang kamu dapatkan setelahnya?

Perjalanan Saya Belajar Menuju Lancar Berbahasa Inggris

27165733830_c6c7151daf_b_d

27165733830_c6c7151daf_b_d

Saat saya kuliah di program S1 Reguler Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, ada program khusus Kelas Internasional. Peserta program ini kuliah sekian semester di Indonesia, lalu dilanjutkan di University of Queensland Australia. Karena mereka dipersiapkan untuk kuliah di luar negeri, perkuliahan mereka dilakukan dalam bahasa Inggris.

Saat itu, tahun 2005, saya merasa wow banget dengan mereka, anak-anak Kelas Internasional yang bisa cas-cis-cus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Saya sendiri merasa cukup minder, karena memang tidak punya kemampuan bahasa Inggris seperti itu.

Fast forward 11 tahun kemudian ke tahun 2016, alhamdulillah saya sudah tidak merasa minder lagi. Kini, setiap hari saya berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan rekan-rekan kerja lewat chatting atau email, melakukan rapat atau presentasi dalam bahasa Inggris. Alhamdulillah, perjalanan bertahun-tahun belajar bahasa Inggris kini membuahkan hasil. Saya bisa bilang saya punya professional working English fluency, walaupun tidak pernah pergi ke luar negeri atau bekerja di perusahaan asing.

Di tulisan ini saya mau melakukan refleksi diri untuk mencatat progres saya belajar bahasa Inggris, sekaligus mencatat area yang saya masih belum kuasai, dan masih kerja keras menguasainya. Baca lebih lanjut

Yang Saya Pelajari dari Para Konsultan Bisnis di Accenture, McKinsey, BCG, dan Sejenisnya

2016-05-11 09.30.20

Saat saya lulus kuliah, 7 tahun lalu, saya mengamati ada beberapa teman seangkatan saya yang diterima bekerja di perusahaan bergengsi; yaitu konsultan bisnis seperti Accenture dan McKinsey. Saya katakan bergengsi, karena perusahaan seperti itu saya ketahui memberikan gaji yang tinggi, sering traveling keliling Indonesia bahkan ke luar negeri, dan menangani klien perusahaan-perusahaan besar di dunia.

Mereka  yang diterima di sana pun bukan orang yang sembarangan. Cerdas, punya IPK cum laude, juga sangat mahir dalam berkomunikasi. Orang-orang yang saat kuliah pun sudah masuk dalam golongan elit di mata saya. Golongan high performer dan high achiever. Mereka yang bukan cuma akademisnya saja yang mentereng, tapi aktif juga di kegiatan ekstra kurikuler (saya juga aktif di ekstra kurikuler, tapi IPK cuma sedikit di atas 3 huhu).

Setelah lulus, saya yang memilih jalur menjadi entrepreneur saat lulus, tidak sering berinteraksi dengan mereka. Kita jarang bertemu di acara reunian, bahkan saat tidak sengaja bertemu pun, tidak ngobrol tentang pekerjaan mereka. Padahal saya selalu penasaran, pekerjaan seperti apa yang mereka lakukan sebagai konsultan? Mengapa mereka bisa digaji tinggi?

Baca lebih lanjut

Kita Pasti akan Meninggal Dunia, tapi Kita Bisa “Hidup” Selamanya

maxresdefault

Minggu lalu, saya dikejutkan dengan sebuah kabar duka. Wada Kouji, penyanyi original soundtrack (OST) Digimon, anime favorit anak generasi 90an, meninggal dunia karena penyakit kanker pita suara yang dideritanya. Ia meninggal di usia relatif muda, 42 tahun.

Generasi saya, yang tumbuh dengan menonton kartun anak-anak di hari Minggu pagi, pasti sudah akrab dengan lagu ini.

Baca lebih lanjut