Hei, apakah teman-teman tahu bahwa pendidikan di Indonesia masih punya masalah di sana-sini? Infrastruktur menuju sekolah yang buruk, jumlah guru yang kurang dan tidak tersebar merata, serta kurangnya buku bacaan & pelajaran, hanya tiga dari banyak sekali masalah pendidikan lainnya.
Kalau teman-teman mengetahui gerakan bernama Indonesia Berkibar (Bersama Kita Belajar) dan membaca halaman fakta pendidikan di websitenya, kita akan menemukan fakta lebih banyak lagi tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang memprihatinkan.
Melihat kondisi pendidikan seperti itu, apa yang ada di pikiran teman-teman? Hanya miris & prihatin? Atau berpikir “ini pemerintah & DPR kerjanya ngapain sih”?
Apakah teman-teman pernah terpikir untuk melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi pendidikan Indonesia?
Jangan cuma diam & merasa prihatin, dan mengandalkan orang lain seperti pemerintah & DPR saja dong. Kita bisa kok, melakukan sesuatu yang bisa jadi solusi untuk masalah pendidikan Indonesia. Lakukan hal sederhana saja, lakukan bersama-sama, kita pun bisa memberikan sesuatu untuk memperbaiki kondisi pendidikan Indonesia.
Di tulisan ini, saya berbagi informasi mengenai tiga saja dari banyak sekali masalah pendidikan di Indonesia, plus gerakan yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki masalah itu.
1. Sulitnya berangkat ke sekolah karena infrastruktur yang buruk
Awal Januari 2012 lalu, masyarakat Indonesia terhenyak karena di Kampung Waru, Desa Sangiangtanjung, Kec. Kalanganyar, Kab. Lebak, Banten, anak-anak SD harus menantang maut saat berangkat sekolah, karena harus menyeberangi sungai berarus deras dengan bergelantungan di jembatan yang putus!
Tahun 2011 lalu sempat ramai juga, murid SDN Cicaringin 3 di Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten, meniti kawat baja berbahaya melintasi sungai.
Murid SDN Cicaringin 3, Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten Meniti Kawat Baja
Tahun 2011 lalu, saat ada kasus murid di Cicaringin, Lebak, Banten, yang meniti kawat baja untuk menyeberangi sungai, beberapa orang yang peduli berinisiatif membuat gerakan Jembatan untuk Anak Bangsa, yaitu gerakan pengumpulan dana untuk membuat jembatan di sana. Alhamdulillah gerakan ini saya dengar berhasil.
2. Buanyak sekali daerah masih kekurangan guru
Ilustrasi: Guru SD
Yang sekolah di Jakarta atau kota-kota besar lain enak, gurunya banyak, nggak ada tuh ceritanya sekolah libur karena kekurangan guru. Tapi, di daerah-daerah lain, kondisinya sebaliknya!
Jadi guru dong! Ada dua program yang bisa membuat kita menjadi guru di sekolah-sekolah di pelosok tanah air.
1. Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T). Ini program dari pemerintah, khusus bagi Sarjana Pendidikan. Sarjana-sarjana pendidikan ditempatkan setahun di daerah 3T itu, untuk menyiapkan mereka menjadi guru profesional ke depannya. Jadi, kalau kamu sarjana pendidikan dari berbagai kampus, ayo ikut SM3T!
2. Indonesia Mengajar. Tidak hanya sarjana pendidikan saja yang bisa menjadi guru. Di gerakan Indonesia Mengajar, para pemuda lulusan sarjana terbaik dari berbagai universitas dikirim selama satu tahun untuk tinggal dan mengajar di daerah pelosok.
Dengan pengalaman menjadi Pengajar Muda (sebutan bagi guru Indonesia Mengajar), diharapkan para pemuda bisa mendapatkan pengalaman yang memperkaya mereka menjadi pemimpin masa depan Indonesia yang memiliki pengalaman grass root.
3. Sekolah kekurangan buku bacaan & pelajaran
Sumber: Agung Firmansyah, Pengajar Muda Angkatan I
Katanya, buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, kita bisa memperluas wawasan kita. Tapi, duuh, bagaimana anak-anak Indonesia bisa pintar dan luas wawasannya, kalau mereka kurang membaca.
Gimana daerah lain? Ehm, sepertinya sama parahnya, karena lebih dari 76.000 sekolah di Indonesia ternyata belum punya perpustakaan! O_o
Solusi
1. Gerakan Indonesia Menyala, adalah gerakan dari Indonesia Mengajar, berupa pengumpulan buku dari masyarakat, untuk kemudian dibuatkan perpustakaan di sekolah-sekolah yang menjadi tempat para Pengajar Muda.
2. Gerakan Buku untuk Anak Bangsa (BuAB), inisiatif dari Perkumpulan Pelajar Indonesia di Australia, yang mengumpulkan buku-buku bacaan berbahasa Inggris maupun donasi untuk buku.
Tahun 2011, BuAB berhasil mendistribusikan 561,5kg buku ke 19 sekolah di 5 Propinsi yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Gorontalo, ditambah 1 kontainer buku.
Jadi?
Contoh gerakan di atas adalah sebagian kecil dari yang bisa kita lakukan untuk perbaikan kondisi pendidikan Indonesia. Ingat, jangan cuma merasa miris & prihatin saja ya. Kamu dan saya, kita, bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia.
Lakukan langkah kecil bersama-sama, untuk anak-anak Indonesia lebih baik
mengabadikan momen-momen dalam kehidupan gw. suatu hari nanti, blog ini akan jadi tempat bersyukur bahwa hidup gw penuh warna dan "dots" yang saling tersambung.
RT @malakmalakmal: 79. Jika org tdk hapal Al-Fatihah, tak usah pusingkan ‘fatwa2’ yg meluncur dari lisannya. Tinggalkan saja dia. #Referensi4 hours ago
RT @malakmalakmal: 78. Dan, tentu saja, tdk semua berita perlu diverifikasi. Lihat dulu sumbernya. Apa cukup berbobot? #Referensi4 hours ago
RT @malakmalakmal: 77. Jika ada berita yg mencurigakan, semestinya kita pun cerdas dan lincah dlm memverifikasinya. #Referensi4 hours ago
Komentar Terakhir