Mental Kaya vs Mental Miskin

Mayasari Bakti

Bus Mayasari Bakti P14 jurusan Tanjung Priok berangkat dari Tanah Abang senja itu tidak terlalu penuh. Saya duduk di kursi sebelah lorong, di bagian agak belakang bis. Teman duduk saya seorang bapak 40an tahun dari Jawa pesisir, saya tebak dari logatnya.

Tidak lama, dua orang anak muda naik dari pintu belakang, menyusuri lorong dan berdiri di bagian agak depan bis. Melihat penampilan mereka khususnya tangan mereka yang kosong, saya bisa menebak kelanjutan cerita.

Benar saja, keluar kata-kata khas mereka, “… ikhlas dari Anda, halal bagi kami. Daripada kami panjang tangan, lebih baik kami panjang suara. Seribu dua ribu bagi bapak ibu mungkin tidak berarti, tapi bagi kami sangat berarti…”

Hingga mereka sampai di kursi tempat saya duduk, saya cuma melihat 2-3 keping 500an ada di tangannya. Sepertinya pemikiran semua penumpang sama dengan saya.

Meminta vs. Bekerja
Pengguna transportasi umum khususnya di Jakarta pasti pernah melihat kejadian seperti dengan berbagai variasinya. Ada yang meminta-minta dengan kaki yang tidak ada sebelah, ada yang menunjukkan luka boroknya, ada yang bilang “saya baru keluar dari penjara”, kita semua pasti pernah mengalami. Ada juga mereka yang mengamen tidak niat dengan suara seadanya. Tapi ada yang beneran usaha berjualan buku, permen atau kacang, minuman ringan, dan sebagainya.

Ini adalah simplisitas representasi dua mentalitas yang dimiliki manusia. Satu pihak memiliki ‘mental miskin’, pihak lain punya ‘mental kaya’. Sederhananya, mental miskin adalah mentalitas mereka yang selalu saja merasa kekurangan, sedangkan mental kaya adalah mentalitas mereka yang selalu merasa cukup dan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki.

Orang-orang bermental miskin sukanya dibantu, senang kalau dianggap susah sama orang lain. Mereka tidak berusaha menguatkan diri supaya bisa membantu yang lain. Orang-orang bermental miskin tidak bersyukur atas rezeki yang dikaruniakan kepadanya. Orang-orang bermental miskin merasa hidupnya sudah ditakdirkan terbatas dan tidak berusaha memanfaatkan potensi yang mereka miliki untuk berkembang lebih baik lagi.

Jangan kira mental miskin hanya dimiliki olah orang yang memang miskin secara status sosial ekonomi. Meminta contekan saat ulangan atau menyalin tugas teman lain juga menggambarkan mental miskin. Saya tidak akan pernah lupa, saat Ujian Nasional SMP lebih dari 12 tahun yang lalu, ada seorang teman saya yang selalu mencocokkan jawabannya ke saya. Padahal saya duduk di sisi tembok sebelah kiri, ia duduk di tembok sisi berlawanan. Dengan perasaan campur aduk, saya berusaha mengimbangi antara pura-pura sibuk mengerjakan soal, benar-benar memberikan jawaban saya, serta pura-pura belum tahu jawaban nomor yang dia minta.

Di sisi lain, orang-orang dengan mental kaya atau mentalitas keberlimpahan selalu percaya bahwa dirinya mampu dan cukup. Orang-orang bermental kaya selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki, dengan cara memanfaatkan seluruh potensinya agar hidupnya lebih baik. Orang-orang bermental kaya tidak membatasi dirinya, tidak membatasi rezekinya, karena ia percaya bahwa ada Sang Maha Kaya yang akan mencukupi seluruh kebutuhannya. Tanpa perlu meminta dan merendahkan dirinya kepada sesama manusia.

Jelas saja Tuhan mengatakan bahwa jika kita bersyukur Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kita, dan jika kita tidak bersyukur Tuhan akan memberikan adzab pada kita. Kalau kita tidak bersyukur dan punya mental miskin, kita akan menutup diri kita dari pintu dan peluang rezeki yang ada di mana-mana, membuat kita semakin miskin, miskin, dan miskin dalam arti sesungguhnya.

NB: Saya belajar mengenai mentalitas kaya dan bersyukur ini dari guru saya, seorang pengusaha internet marketer bernama M. Gunarsah. 8 tahun ia kesulitan finansial, sampai akhirnya menemukan bahwa ia punya mental miskin yang harus diubah. Cara mengubahnya ia tuangkan dalam e-book yang bisa dibeli di sini

Jika kita telah bekerja keras memanfaatkan waktu, ilmu, uang, dan tenaga yang kita miliki, meniatkan diri untuk mendekatkan diri, meminta, dan merendahkan diri kepada-Nya, percaya deh, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kerja keras hamba-Nya.

Jadi, mumpung masih muda, masih kuat dan punya banyak tenaga, masih punya banyak waktu, yuk manfaatkan semua potensi yang kita miliki untuk terus berkembang. Itulah mental kaya, bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Lakukanlah kebaikan, teruslah berkarya, berikan manfaat kepada orang lain walaupun kamu merasa itu adalah sesuatu yang kecil di mata manusia. Kita tidak tahu dari amal kebaikan mana yang akan Tuhan balas dengan kebaikan yang tidak terbatas.

Masih di bus Mayasari Bakti P14 jurusan Tanjung Priok berangkat dari Tanah Abang senja itu. Tak sampai satu menit setelah kedua pemuda di awal cerita tadi turun, naik sepasang orang lagi. Sekarang ada perempuannya, menggendong anak bayi, dengan sang laki-laki membawa sebuah ukulele atau gitar kecil.

Si laki-laki mulai menggenjreng gitarnya saat si perempuan membagikan amplop kecil bertuliskan tangan “mohon bantuan seikhlasnya”. Nyanyian duet mereka standar, namun saya masih mendengar niat dan kesungguhan dari nyanyian mereka. Saya mengembalikan amplop tadi dengan selembar seribu rupiah, sementara bapak teman duduk saya memberi selembar dua ribu rupiah. Mengintip penumpang lain, sepertinya tidak sedikit yang berpikiran sama dengan kami.

Ya, rezeki berlimpah hanya akan datang bagi mereka yang bermental kaya.


Sumber gambar:
1

About these ads

Satu pemikiran pada “Mental Kaya vs Mental Miskin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s